Assalamu'alaikum...

harap dibaca....

Selamat datang di Blog saya.

Foto saya
Purwokerto, Jawa Timur, Indonesia

Sabtu, 20 Juni 2009

latihan/ praktek

pengertian drill/praktek
Latihan sering di sebut juga dengan drill, drill adalah sebuah metode pembelajaran yaitu, Metode drill atau Metode latihan keterampilan adalah suatu metode mengajar, dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat tas (http://martiningsih.blogspot.com.macam-macam-metode-pembelajaran.html di akses 10 maret 2010)
Menurut (winarno surachmad,1979:79) metoode drill disebut latihan dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang di pelajari, karena hanya dengan praktik suatu pengetahuan dapat di sempurnakan.
Menurut (Shalahuddin, dkk, 1987: 100) metode drill adalah Suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan supaya menjadi permanen. Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode drill adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan Jalan melatih siswa agar menguasai pelajaran dan terampil.
Keunggulan Drill (latihan)
1. Siswa dapat mempeoleh ketangkasan dan kemahiran dalm melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang di pelajari.
2. Dapat menimbulkan rasa percaya diri bahwa peristiwa bahwa siswa yang berhasil dalam belajar telah memiliki suatu keterampilan kelak berguna di kemudian hari.
3. Guru lebih muda mengontrol dan dapat membedakan mana siswa yang disiplin dalam belajar dan mana yang kurang dengan memperhatikan tindakan dan perbuatan siswa di saat berlangsungnya pelajaran.
4. Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan
Kekurangan Drill (latihan)
1. Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian.
2. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
3. Dapat menimbulkan verbalisme, terutama pengajaran yang bersifat menghafal di mana siswa di latih untuk menguasai bahan secara hafalan dan secara otomatis.

Cara mengatasi kekurangan Drill (latihan)
Menurut syaiful sagala (2003 : 218) cara mengatasi kekurangn metode drill antara lain
1. Latihan hanya untuk bahan atau tindakan yang bersifat otomatis.
2. Latihan harus memiliki arti yang luas, karena :
a. Jelaskan terlebih dahulu latihan tersebut.
b. Agar murid dapat memahami manfaat latihan itu bagi kehidupan siswa.
c. Murid perlu mempunyai sikap bahwa latihan itu di perlukan untuk melengkapi pelajaran
3. Masa latihan relative harus singkat teetapi harus sering di lakukan
4. Latihan harus menarik, gembira dan tidak membosankan.
Tujuan Drill (latihan)
Menurut Roestiyah N.K (1985: 125-126) dalam strategi belajar mengajar teknik metode drill (latihan siap) ini biasanya dipergunakan untuk tujuan agar siswa:
a. Memiliki keterampilan motoris/gerak, seperti menghafal kata-kata, menulis, mempergunakan alat atau membuat suatu benda; melaksanakan gerak dalam olah raga.
b. Mengembangkan kecakapan intetek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan, mengurangi, menarik akar dalam hitungan mencongak. Mengenal benda/bentuk dalam pelajaran matematika, ilmu pasti, ilmu kimia, tanda baca dan sebagainya.
c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan hal lain, seperti sebab akibat banjir - hujan; antara tanda huruf dan bunyi - ng, -ny dan lain sebagainya; penggunaan lambang/simbol di dalam peta dan lain-lain.

pada penerapan latihan banyak hal yang perlu di perhatikan antara lain kondisi siswa kondisi siswa di pengaruhi oleh beberapa hal diantaranya
1.fasilitas bengkel yang ada .
2.mentor atau guru yang melakukan demonterator.
3.waktu yang di gunakan di suatu latiahan kerena lamanya waktu latihan dapat menimbulkan kebosanan dan verbalisme. tetapi jika waktu terlalu singkat dapat mengakibatkan keterampilan yang tidak sempurna.
adapun Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, menurut Thursan Hakim (2002:6) dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor ekternal diantaranya Waktu dan kesempatan yang berhubungan dalam belajar. Penggunaan waktu yang maksimal dan keseimbangan waktu dengan kegiatan yang lain dapat memudahkan dalam belajar sehingga meraih hasil yang baik.

Minggu, 10 Mei 2009

metode buzz grup

5.3 Metode Kelompok Buzz (Buzz Groups)
Menurut Roestiyah (2001:9) Buzz Group adalah suatu kelompok besar yang dibagi menjadi 2 (dua) sampai 8 (delapan) kelompok yang lebih kecil sehingga jika diperlukan kelompok kecil ini diminta untuk melaporkan hasil diskusi yang mereka lakukan kepada kelompok besar.
Menurut Surjadi (1989:34) kelompok Buzz (Buzz Groups) adalah suatu kelompok yang dibagi kedalam beberapa kelompok kecil (sub-groups) masing-masing terdiri dari 3-6 siswa dalam tempo yang singkat untuk mendiskusikan suatu topik atau memecahkan suatu masalah. Kelompok yang kecil itu akan melaporkan hasil dari kelompok mereka kepada kelompok besar dan kemudian pada diskusi kelas.
Menurut Hasibuan, dan Moedjiono (2004:20) Buzz group adalah suatu kelompok besar yang dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, terdiri atas 4-5 orang. Tempat diatur agar siswa dapat berhadapan muka dan bertukar pikiran dengan mudah. Diskusi diadakan di tengah pelajaran atau di akhir pelajaran dengan maksud menajamkan kerangka bahan pelajaran, memperjelas bahan pelajaran atau menjawab pertanyaan-pertanyaan.
Hasil belajar yang diharapkan ialah agar segenap individu membandingkan persepsinya yang mungkin berbeda-beda tentang bahan pelajaran, membandingkan interprestasi dan informasi yang diperoleh masing-masing. Dengan demikian masing-masing individu dapat saling memperbaiki pengertian, persepsi, informasi, interpretasi sehingga dapat dihindarkan kekeliruan-kekeliruan.
Berdasarkan ketiga pendapat di atas, kelompok Buzz dapat diartikan sebagai suatu metode pembelajaran yang membagi siswanya dalam suatu kelompok besar yang terdiri dari 10 orang menjadi beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 2-3 orang, dan diskusi dilakukan dalam tiga tahapan yaitu diskusi kelompok kecil, diskusi kelompok besar, dan diskusi kelas. Setiap kelompok kecil mendiskusikan tugas yang diberikan dan berkewajiban untuk melaporkan hasil diskusi pada kelompok besar lalu kemudian kelompok besar mempersentasikan dalam diskusi kelas.
Setiap metode yang diterapkan oleh guru pada saat proses belajar mengajar pasti memiliki keunggulan dan kelemahannya. Keunggulan dari metode kerja kelompok Buzz ini adalah :
a. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
b. Diskusi kelompok Buzz yang membagi kelompok besar menjadi beberapa kelompok kecil membuat siswa lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya dan lebih bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepada mereka.
c. Diskusi yang dilakukan dalam beberapa tahap membuat siswa lebih mengingat dan memahami apa yang telah mereka diskusikan.
d. Belajar untuk saling membantu dan tolong-menolong dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
Tetapi disamping keunggulan dari metode kelompok Buzz (Buzz Groups) juga memiliki kelemahan, antara lain yaitu :
a. Keberhasilan metode ini bergantung pada kemampuan iswa untuk memimpin kelompok.
b. Dibutuhkan waktu yang lebih banyak dalam metode kelompok Buzz.
Menurut Surjadi (1989:35) dalam pelaksanaan metode kelompok Buzz (Buzz Groups) mempunyai langkah-langkah yang harus diperhatikan. Sebelum memulai proses pembelajaran, guru telah terlebih dahulu membentuk kelas menjadi 4 kelompok besar dan memperkenalkan kepada siswa tentang metode ini. Berikut adalah langkah-langkah dalam metode kelompok Buzz (Buzz Groups) adalah :
a. Persentasi Guru
Pada tahap ini pembelajaran diawali dengan presentasi kelas yang dilaksanakan oleh guru. Guru memberikan apersepsi awal yang ada dalam kehidupan sehari-hari tentang topik atau pokok bahasan yang akan dipelajari. Kemudian guru menyampaikan konsep-konsep dasar pokok bahasan. Setelah itu guru membentuk siswa dalam kelompok besar dan memilih satu pemimpin dari kelompok besar. Setiap pemimpin diberikan tugas.
Adapun tugas dari pemimpin kelompok adalah :
1. Pemimpin kelompok dibantu guru memecah anggota kelompoknya menjadi 3-4 kelompok kecil yang terdiri dari 2 atau 3 orang.
2. Pemimpin mengkoordinir anggota kelompoknya agar diskusi kelompok kecil dan kelompok besar berjalan baik dan tepat waktu.
3. Pemimpin juga ikut membantu setiap kelompok kecil dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
4. Memperingatkan setiap kelompok kecil dua menit sebelumnya bahwa tugas mereka hampir berakhir.
5. Mengundang kelompok kecil itu untuk berkumpul lagi menjadi kelompok besar.
6. Mempersilahkan tiap kelompok kecil untuk menyampaikan hasil diskusi mereka.
7. Mempersilahkan anggota kelompok lain untuk memberikan tanggapan.
8. Merangkum hasil diskusi kelompok besar.

b. Tahap diskusi kelompok kecil
Setelah pemimpin kelompok dibantu guru membagi kelompok besar menjadi kelompok kecil, kemudian guru memberikan tugas berupa LKS kepada setiap kelompok kecil. Pada tahap ini setiap kelompok kecil berkewajiban menyelesaikan LKS sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan berkewajiban melaporkan hasil diskusi pada kelompok besar.

c. Tahap diskusi kelompok besar
Pada tahap ini pemimpin kelompok meminta setiap kelompok kecil untuk bergabung kembali menjadi kelompok besar. Pemimpin kelompok memimpin jalannya diskusi kelompok besar sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Setiap kelompok kecil menyampaikan hasil diskusinya kepada kelompok besar dan pemimpin kelompok mempersilahkan anggota kelompok lainnya untuk memberikan tanggapan. Pemimpin kelompok merangkum hasil diskusi kelompoknya untuk dikumpulkan dan dipresentasikan dalam diskusi kelas.

d. Tahap diskusi kelas
Guru mengecek pemahaman siswa dengan mempersilahkan salah satu anggota kelompok besar untuk mempersentasikan hasil diskusi. Jawaban anggota kelompok tersebut merupakan perwakilan jawaban dari kelompok. Pada saat salah satu perwakilan dari kelompok besar mempersentasikan hasil diskusi, guru mempersilahkan kelompok lain untuk memberikan tanggapan.

Adapun persamaan antara metode kelompok Buzz (Buzz Groups) dengan model jigsaw yaitu sama-sama membagi kelas dalam kelompok kecil tetapi dalam pelaksanaannya menurut Isjoni (2009:54) dalam model jigsaw terdapat tim ahli yang diambil dari masing-masing kelompok kecil untuk menguasai dan memahami suatu materi kemudian setiap orang dalam tim ahli kembali lagi kedalam kelompoknya untuk menjelaskan materi yang telah dipahaminya kepada anggota kelompok kecil sedangkan kelompok Buzz (Buzz Groups) tidak, sehingga antara metode kelompok Buzz (Buzz Groups) dengan model jigsaw berbeda.

sumber : www.enggineanalisis.blogspot.com

Kamis, 28 Agustus 2008

PENGARUH MINAT MEMBACA BUKU PERPUSTAKAAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI EKONOMI PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 KART

PENGARUH MINAT MEMBACA BUKU PERPUSTAKAAN DAN MEDIA
PEMBELAJARAN TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIDANG STUDI
EKONOMI PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 KARTASURA
TAHUN AJARAN 2008/2009



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perkembangan pendidikan dewasa ini baik di negara maju mau pun di
Negara yang sedang berkembang, minat membaca sangat memegang peranan
penting. Keberhasilan dalam belajar sebagian besar ditunjang oleh minat baca.
Seorang pelajar yang tidak berminat untuk membaca, mustahil belajarnya akan
berhasil dengan baik.
The Liang Gie (1984 : 57) menyatakan bahwa “sebab tidak ada belajar yang
dapat dilaksanakan tanpa pembacaan, dan gudang bacaan adalah perpustakaan”.
Tidaklah cukup seorang belajar hanya mengerahkan tenaganya untuk
mendengarkan lalu menghafalkan saja, melainka n juga harus di tunjang banyak
oleh buku-buku perpustakaan.
Dengan menjadi pengunjung perpustakaan yang setia dan dapat
mempergunakannya dengan baik, kemungkinan besar prestasi belajar siswa akan
meningkat. Sebagai upaya meningkatkan kecerdasan bangsa tida k harus selalu
melalui jalur pendidikan formal saja, akan tetapi dapat juga melalui jalur
pendidikan nonformal, oleh karena itu diperlukan adanya sarana komunikasi
informasi ilmu pengetahuan untuk disampaikan kepada masyarakat yaitu
perpustakaan. Perpustakaan merupakan pusat terkumpulnya berbagai informasi dan
ilmu pengetahuan baik yang berupa buku maupun bahan rekaman lainnya,
yang diorganisasikan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai
perpustakaan. Pentingnya perpustakaan diorganisasikan deng an baik agar
memudahkan pemakai dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya, karena
bahan-bahan himpunan ilmu pengetahuan diperoleh umat manusia dari masa ke
masa.
Tingginya budaya gemar membaca, mengakibatkan meningkatnya minat
membaca. Minat membaca di tunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk
melakukan kegiatan membaca.
Sekarang ini banyak keluhan bahwa daya serap / pemahaman para siswa
terhadap penguasaan bahan ajar adalah rendah. Penyebab rendahnya daya serap
para siswa terhadap bahan ajar tersebut bukan karena faktor potensial, tetapi salah
satu penyebabnya yang penting adalah minat membaca buku yaitu siswa yang
mempunyai minat membaca bukunya lemah. Siswa yang lebih banyak
menggunakan waktunya untuk membaca akan memperoleh prestasi belajar yang
lebih baik dibanding dengan yang tidak.
Dengan adanya minat yang tinggi pada siswa akan menjadikan siswa lebih
bersemangat dan bergairah dalam belajar. Seseorang yang tidak berminat untuk
mempelajari sesuatu biasanya tidak dapat diharapkan akan berhasil den gan baik
dalam menguasai ilmu yang dipelajari. Sebaliknya kalau seseorang belajar atau
membaca dengan penuh minat maka akan meluangkan waktunya yang cukup
banyak untuk mendalami mata pelajaran tersebut sehingga diharapkan prestasi yang
dicapai akan lebih baik. Dalam menghasilkan output yang berkualitas, maka dalam
bidang pendidikan diperlukan media pembelajaran yang memadai, untuk
mengetahui keberhasilan proses belajar siswa dapat diketahui dari prestasi yang
dicapai siswa. Prestasi belajar merupakan penc erminan hasil belajar yang dicapai
siswa setelah melakukan usaha. Tinggi rendahnya prestasi belajar akan memberikan
sumbangan dalam mencapai kesuksesan masa depan siswa. Untuk mencapai
prestasi belajar yang baik, siswa dipengaruhi banyak faktor baik dari dalam
maupun dari luar diri siswa tersebut. Dari dalam diri siswa itu antara lain faktor
kecerdasan, bakat, minat, motivasi, kesehatan jasmani dan juga usaha untuk
meningkatkan prestasi, sedangkan dari luar siswa meliputi lingkungan keluarga,
sekolah, masyarakat, peralatan, dan media belajar.
Salah satu ciri pembelajaran kontekstual adalah pemanfaatan sumber belajar
(termasuk media) yang sesuai dengan pengalaman hidup peserta didik. Hal ini tidak
hanya meningkatkan atau membangkitkan minat dan keaktifan si swa dalam proses
belajar akan tetapi juga meningkatkan efektivitas pembelajaran karena obyek yang
mereka pelajari sesuai dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dan
bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup keseharian mereka. Oleh karena
itu, setiap guru/fasilitator diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan mereka di dalam memilih, mengelompokkan, dan memanfaatkan
berbagai obyek yang terdapat di lingkungan kelas, sekolah atau diluar sekolah
sebagai sumber belajar anak sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.
Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang
cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang di
sampaikan dapat dibantu dengan kehadiran media sebagai perantara. Bahkan
keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian
peserta didik akan lebih mudah mencerna bahan dari pada tanpa bantuan media.
Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu
kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, kare na memang gurulah yang menghendaki
untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan -pesan dari bahan
pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Suatu proses pembelajaran
tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipaha mi oleh
setiap siswa/anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau komplek.
Menurut Djamerah & Zain (2002:136) menjelaskan didalam kegiatan
belajar mengajar ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan
menghadirkan media sebagai perant ara. Kerumitan bahan pelajaran dapat
disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang
mampu guru sampaikan/jelaskan melalui kata -kata/kalimat. Oleh sebab itu media
disini sangat penting untuk menarik siswa untuk mau belajar dan mem buat antusias
dengan materi yang diberikan.
Dalam penjelasan diatas siswa di SMP Negeri 2 Kartasura terdapat juga
yang minat membaca buku perpustakaan rendah, serta penggunaan media
pembelajaran yang kurang memadai/sesuai saat proses belajar mengajar
berlangsung, sehingga kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi terhadap
prestasi belajar siswa.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwasanya ada 2 faktor
penting yaitu minat membaca buku perpustakaan dan media pembelajaran yang
menentukan prestasi belajar siswa.
Melihat latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk
mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Minat Membaca Buku Perpustakaan
Dan Media Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Ekonomi Pada
Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura Tahun Ajaran 2008/2009”
B. Pembatasan Masalah.
Suatu penelitian biasanya muncul berbagai masalah yang membutuhkan
pemecahan dan masalah tersebut menimbulkan kesulitan bagi peneliti. Mengingat
keadaan peneliti yang serba terba tas, maka perlu adanya pembatasan masalah agar
tidak terjadi kesalahpahaman dalam penelitian. Hal ini penting agar masalah yang
dikaji jelas dan dapat menggerakkan perhatiannya dengan cepat. Menurut Winarno
Surakhmad (1994:36) “Pembatasan ini diperlukan bu kan saja untuk memudahkan
atau menyederhanakan masalah bagi penyelidik tetapi juga untuk dapat menetapkan
lebih dahulu segala sesuatu yang diperlukan untuk pemecahannya : tenaga,
kecekatan, waktu, ongkos, dan lain -lain yang timbul dari rencana tertentu ”.
Pembatasan masalah akan memudahkan peneliti dalam pembahasannya,
sehingga dapat mencapai sasaran dan tujuan dengan tepat dan hasil yang diperoleh
dapat dipertanggung jawabkan. Berdasarkan identiikasi masalah dapat diketahui
bahwa banyak faktor yang mempen garuhi tinggi rendahnya prestasi belajar yang
dicapai siswa. Dalam penelitian ini masalah yang diteliti perlu dibatasi agar tidak
meluas pembahasannya. Hal ini disebabkan oleh karena kualitas penelitian tidak
terletak pada keluasan masalah yang diteliti, t etapi pada kedalaman pengkajian
masalahnya. Untuk memperjelas pemahaman tentang variabel -variabel yang terkait
dalam penelitian ini, maka penulis memberikan penjelasan untuk pembatasan
masalah yang ada yaitu :
1. Penelitian ini hanya dilaksanakan pada siswa k elas VIII di SMP Negeri 2
Kartasura.
2. Penelitian ini hanya terbatas pada minat membaca buku perpustakaan yaitu
keinginan atau hasrat yang kuat untuk melakukan aktivitas membaca buku
diperpustakaan.
3. Penelitian ini hanya terbatas pada Media Pembelajaran yait u alat atau medium
yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar.
4. Penelitian ini terbatas pada Prestasi belajar bidang studi ekonomi yaitu hasil
maksimal yang dicapai dengan adanya perubahan tingkah laku pada diri siswa
yang dinyatakan dalam bentuk skor atau hasil nilai tengah semester (Mid)
siswa.
C. Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci
mengenai ruang lingkup permasalahan yang akan diteliti, yang didasarkan pada
identifikasi masalah dan pembatasa n masalah. Agar diperoleh gambaran yang jelas
untuk menghindari kesalahpahaman penafsiran, maka perlu dirumuskan terlebih
dahulu masalah yang terkandung dalam penelitian. Berdasarkan latar belakang
tersebut diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebaga i berikut :
1. Adakah pengaruh positif Minat Membaca Buku Perpustakaan terhadap Prestasi
Belajar bidang studi Ekonomi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura?
2. Adakah pengaruh positif Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar bidang
studi Ekonomi pada Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 2 Kartasura?
3. Adakah pengaruh positif Minat Membaca Buku Perpustakaan dan Media
Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar bidang studi Ekonomi pada Siswa Kelas
VIII di SMP Negeri 2 Kartasura
D. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan manusia baik lahiriah maupun batiniah pasti mempunyai
tujuan yang ingin dicapai oleh manusia tersebut, untuk itu seorang peneliti harus
menentukan tujuan dari penelitiannya, agar arah penelitian lebih jelas dan terarah.
Berdasarkan dari hal itu maka tujuan da ri penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui pengaruh Minat Membaca Buku Perpustakaan terhadap Prestasi
Belajar bidang studi Ekonomi pada Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 2
Kartasura
2. Mengetahui pengaruh Media Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar bidang
studi Ekonomi pada Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 2 Kartasura.
3. Mengetahui pengaruh Minat Membaca Buku Perpustakaan dan Media
Pembelajaran secara bersama terhadap Prestasi Belajar bidang studi Ekonomi
pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura.
E. Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang
bermanfaat khususnya bagi penulis dan pendidikan pada umumnya. Harapan -harapan
itu antara lain :
1. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam usaha
meningkatkan keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi belajar, dan dapat
memberikan gambaran kepada sekolah bahwa minat membaca buku perpustakaan
itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar
siswa.
2. Bagi Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperdalam pengetahuan dan menerapkan
ilmu yang telah diperoleh dibangku kuliah dalam kehidupan praktek belajar
mengajar yang sesungguhnya dan sebagai bekal untuk terjun didunia pendidikan
serta untuk mencapai pemecahan masalah ya ng ada pada perumusan masalah.
3. Bagi Pembaca
Memberikan sumbangan bagi pengembangan khasanah ilmu pendidikan khususnya
yang berkaitan dengan Pengaruh Minat membaca buku perpustakan dan media
pembelajaran terhadap prestasi belajar bidang studi Ekonomi, dan d apat dijadikan
referensi pada penelitian yang akan datang.
F. Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk mengetahui gambaran dari skripsi ini, maka disusun sistematika
penulisan skripsi sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang tentang masala h, pembatasan masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sitematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menguraikan tentang pengertian minat, membaca, minat membaca,
perpustakaan, faktor-faktor yang mempengaruhi minat membaca, pengertian media
pembelajaran, macam-macam media, nilai-nilai praktis media pembelajaran,
pengertian prestasi belajar, faktor -faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar,kerangka pemikiran, dan hipotesis.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab ini menguraikan te ntang tempat penelitian, jenis penelitian,
populasi, sampel, sampling, data dan sumber data, variabel penelitian, teknik
pengumpulan data, uji instrument, prasyarat analisis serta teknik analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang gambaran umum obyek penelitian, penyajian data,
analisis data, dan pembahasan hasil penelitian.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisi tentang kesimpu

Senin, 02 Juni 2008

Bahan Bakar Alternatif..._//??

Harga minyak dunia yang melambung, sudah lama diprediksi. Logikanya, minyak bumi (fossil fuel) adalah bahan bakar yang tak dapat diperbarui. Cepat atau lambat, minyak dunia akan habis. Saat ini, harga minyak memang sedang booming karena kebutuhan negara-negara industri baru seperti India dan Cina sangat tinggi.

Ke depan, jika negara-negara di dunia tak segera mengantisipasi kelangkaan fossil fuel, harga minyak akan naik tinggi sekali. Tapi sebaliknya, jika negara-negara di dunia menyiapkan antisipasinya sejak sekarang, niscaya harga minyak tak akan naik lagi, bahkan bisa turun. Mengapa? Karena dunia nantinya bisa mencari pengganti minyak fosil yang aman, murah, dan mudah diproduksi oleh siapa pun. Saat ini, industri minyak hanya dipegang oleh para pemodal besar.

Biofuel dari Sukabumi
Majalah Trubus edisi November 2007 memaparkan ‘kebun-kebun penghasil bensin di Pulau Jawa’. Di wilayah Sukabumi, misalnya, ternyata sudah muncul industri rumahan biofuel yang sederhana. Pak Soekani dari kampung Nyangkowek, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, salah seorang warga yang memproduksi ‘bensin’ itu. Tiap bulan dia berhasil mengolah singkong menjadi etanol (alkohol) 95 persen sebanyak 2.100 liter.


Dari jumlah itu, 300 liter dijual ke pengecer premium, dan 800 liter lainnya dijual ke industri kimia. Harga per liter etanol itu, Rp 10 ribu. Tiap liter etanol dibuat dari 6,5 kg singkong. Harga produksi etanol per liter Rp 3.400-Rp 4.000. Dari bisnis ‘energi’ yang berasal dari singkong itu, Pak Soekani mendapatkan omzet 21 juta per bulan. Langkah Pak Soekani itu, kini mulai banyak diikuti penduduk desa lainnya.

Mungkin anda bertanya, mengapa pengecer premium mau membeli etanol made in Pak Soekani seharga Rp 10 ribu per liter? Ternyata, pasar itu tercipta dari pengalaman tukang ojek di Cicurug. Premium yang dicampur 5-10 persen alkohol, angka oktannya naik. Kendaraan makin bertenaga dan bahan bakarnya makin hemat 20-30 persen. Belakangan, di Sukabumi juga sudah ada orang yang membuat kompor berbahan bakar alkohol. Kompor jenis ini, konon, lebih irit.

Kisah Pak Soekani menggambarkan bahwa bisnis biofuel tidak seperi fossil fuel (dalam hal ini BBM), bisa dilakukan siapa saja, bahkan dengan skala rumahan dan kaki lima. Karena itu, ke depan, jika pemerintah dan masyarakat ramai-ramai mengembangkan biofuel, niscaya kesejahteraan di Indonesia akan makin merata. Tak hanya itu, lahan-lahan kosong pun akan menghijau.

Memang ada kekhawatiran bahwa kebun-kebun biofuel itu akan merusak lingkungan dan keanekaragaman jenis di Indonesia. Namun jika sejak awal pemerintah membuat peta pengembangan industri biofuel secara nasional, niscaya kekhawatiran tersebut bisa direduksi. Ini karena pada peta tersebut akan ditunjukkan daerah-daerah yang pas untuk mengembangkan biofuel jenis tertentu.

Peluang bisnis biofuel di dunia sangat besar. Berdasarkan laporan Clean Edge seperti dikutip buku The Clean Tech Revolution (2007) karya Ron Pernick dan Clint Wilder, pasar biofuel di dunia tahun 2006 mencapai 20,5 miliar dolar AS (untuk etanol dan biodisel). Nilai pasar itu akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2016. Di AS, etanol dicampur dengan gasoline (premium) dengan kadar campuran 2-85 persen. Di Brazil, sudah diproduksi mesin-mesin yang bisa memakai etanol seluruhnya (100 persen). Namun demikian, kondisi pasar etanol di Brazil sangat fleksibel. Jika harga BBM tinggi sekali, maka campuran etanol pada premium diperbesar, dan sebaliknya.

Tahun 2006, produksi etanol di dunia mencapai 12 miliar galon. Di AS, campuran premium dan 10 persen etanol (E-10) dipakai mobil-mobil tanpa modifikasi mesin. Sedangkan untuk campuran 85 persen etanol (E-85), mesinnya dimodifikasi dengan flex-fuel vehicle (FFVs). Jika produksi etanol di dunia makin besar dan kendaraan di dunia sudah pro-biofuel, niscaya semua kendaraan di muka bumi akan memakainya. Jika sudah demikian, ‘emas hitam’ yang berasal dari kilang-kilang minyak di Timur Tengah akan bergeser ke ‘emas hijau’ yang berasal dari kebun-kebun minyak di daerah tropis seperti Asia dan Amerika Latin.

Pemerataan ekonomi
Setiap ada ancaman, pasti ada peluang. Harga minyak yang mahal jangan hanya dilihat sebagai ancaman, melainkan juga peluang. Peluang ini bisa menyadarkan seluruh komponen masyarakat Indonesia bahwa ketergantungan pada BBM adalah sangat berbahaya dan kita punya kesempatan besar untuk mengkonversi BBM ke biofuel. Tanah Indonesia yang subur merupakan aset untuk membangun kemandirian sumber energi terbarukan. AS dan Eropa juga Jepang dan Cina saat ini tengah bahu membahu mengganti ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Pemerintah Indonesia juga sudah seharusnya berpikir jauh ke sana dan langsung mengimplementasikannya ke dalam sistem kerja yang terencana dan terpadu untuk menyongsong kemandirian energi ramah lingkungan ini. AS, misalnya, sudah mulai melaksanakan program untuk menyongsong program tahun 2017, di mana 20 persen bahan bakarnya berasal dari tanaman. Ini artinya, setiap hari di tahun 2017, AS akan membutuhkan lebih dari 8 juta barel biofue. Program ini jelas sangat raksasa dan AS sudah bertekad melaksanakannya.

Nah, bagaimana Indonesia? Pak Soekani di kampung Nyangkowek, Cicurug sudah memulainya. Hanya dengan singkong, Pak Soekani bisa memproduksi ‘bensin’ masa depan. Padahal singkong adalah tanaman yang amat akrab dengan masyarakat Indonesia. Singkong bisa ditanam di mana saja. Di kampung-kampung, singkong bisa ditanam di samping, depan, dan belakang rumah. Daunnya bisa dijadikan sayuran yang amat bergizi, sedang umbinya adalah bahan untuk membuat etanol yang baik.

Bila ditanam secara serius, dalam satu hektare dapat dihasilkan 100 ton, bahkan 150 ton singkong. Luar biasa bukan? Di masa depan, anak singkong bukan lagi menjadi hinaan, sebaliknya akan jadi pujaan. Ini karena singkong, bukan sekadar makanan sehat yang antidiabet, tapi juga penyelamat krisis energi nasional di masa depan.

Rabu, 13 Februari 2008

Semua tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut. Pertama kali penelitian tindakan kelas diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946, yang selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt dan lainnya.

Pada awalnya penelitian tindakan menjadi salah satu model penelitian yang dilakukan pada bidang pekerjaan tertentu dimana peneliti melakukan pekerjaannya, baik di bidang pendidikan, kesehatan maupun pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu contoh pekerjaan utama dalam bidang pendidikan adalah mengajar di kelas, menangani bimbingan dan konseling, dan mengelola sekolah. Dengan demikian yang menjadi subyek penelitian adalah situasi di kelas, individu siswa atau di sekolah. Para guru atau kepala sekolah dapat melakukan kegiatan penelitiannya tanpa harus pergi ke tempat lain seperti para peneliti konvensional pada umumnya.

Secara lebih luas penelitian tindakan diartikan sebagai penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada sekelompok subyek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik.

Dalam konteks pekerjaan guru maka penelitian tindakan yang dilakukannya disebut Penelitian Tindakan Kelas, dengan demikian Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu kegiatan penelitian dengan mencermati sebuah kegiatan belajar yang diberikan tindakan, yang secara sengaja dimunculkan dalam sebuah kelas, yang bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas tersebut. Tindakan yang secara sengaja dimunculkan tersebut diberikan oleh guru atau berdasarkan arahan guru yang kemudian dilakukan oleh siswa. Dalam hal ini arti Kelas tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yaitu kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama juga (Suharsimi: 2005).



Untuk mewujudkan tujuan-tujuan penelitian, PTK (action research in the classroom)) dilaksanakan berupa proses pengkajian daur (siklus) yang terdiri dari 4 tahap, yaitu:

a. Perencanaan (plan): Rencana penelitian tindakan mempertimbangkan resiko yang ada dalam perubahan perubahan perilaku, sosial dan adanya kendala, baik bersifat material maupun non material dalam situasi terkait (Kontekstual);

b. Tindakan (Action): Aksi yang dilakukan secara sadar, terkendali, cermat dan bijaksana. Tindakan digunakan sebagai pijakan untuk pengembangan tindakan-tindakan berikutnya, yang disertai niat untuk memperbaiki keadaan, dan tindakan bersifat tidak tetap (sementara). Tindakan dituntun oleh perencanaan dan mengandung resiko, karena terjadi dalam situasi nyata dan berhadapan dengan kendala materil dan non materil.

c. Observasi (Observation): Observasi berfungsi mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait. Observasi memberikan pertanda tentang pencapaian refleksi. Bahan pokok yang diobservasi adalah tindakan, pengaruhnya, dan konteks situasi tempat tindakan dilakukan.

d. Refleksi (Reflection): Refleksi adalah mengingat dan merenung kembali suatu tundakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Refleksi berusaha memahami proses, masalah, persoalan dan kendala yang nyata dalam tindakan strategik. Pada tahap refleksi diadakan diskusi diantara para peserta, melalui diskusi kelompok memberikan dasar perbaikan rancana selanjutnya. Refleksi memiliki aspek evaluatif, untuk menilai apakah pengaruh tindakan memang sesuai yang diinginkan dan memberi saran-saran tentang cara-cara untuk meneruskan pekerjaan. Refleksi juga mengandung pengertian deskriptif, yaitu memungkinkan dilakukannya peninjauan, pengembangan gambaran yang baik.

Dalam proses refleksi akan ditemukan hal-hal sebagai berikut:

ANALISA > PEMAKNAAN > PENJELASAN > PENYUSUNAN
KESIMPULAN > IDENTIFIKASI TINDAK LANJUT

Dalam PTK, hal yang menjadi pokok penelitian meliputi :
1. Variabel Penelitian, terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat
2. Tempat dan Waktu Penelitian, menceritakan setting penelitian
3. Subjek Penelitian, objek yang diteliti
4. Metode Penelitian,Metode Penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)Didalam penelitian ini terdapat 3 (tiga) siklus
yang akan digunakan. Setiap siklus terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu :
a. Perencanaan (planning)
b. Tindakan (acting)
c. Observasi (observasing)
d. Refleksi (reflekcting)

Teknik Pengumpulan Data
Selanjutnya, dari kegiatan diatas dilanjutkan dengan pengumpulan data, yang terdiri dari :
1. Tes
tes dilakukan untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang diharapkan dari setiap siswa baik lisan maupun tulisan.Tes dilakukan pada akhir siklus dalam setiap proses penelitian.

2. Observasi
Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara sistematis, (Arikunto). Metode ini dilakukan untuk mengamati dan mencatat secara langsung segala sesuatu yang berkaitan dengan penelitian ini yang berpedoman pada lembar observasi sebagai data pendukung ,data ini berupa catatan dan instrumen pemantauan kelas.
Teknik Analisa Data
Dari hasil pengumpulan data, kemudian data tsb dianalisa untuk mengetahui hasil dari tindakan


Data Tes
Analiasis data tes yang digunakan adalah membandingkan data T0> T1> T2 >T3 . Jika diperoleh data T3> T2> T1 >T0 maka dikatakan penelitian ini berhasil.
T0 = Tes yang diambil sebelum adanya perlakuan
T1 = Nilai hasil belajar setelah tindakan pada siklus I.
T2 = Nilai hasil belajar setelah tindakan pada siklus II.
T3 = Nilai hasil belajar setelah tindakan pada siklus III.


Data hasil belajar diperoleh dari hasil pemeriksaan lembar tes siswa dengan rumus sebagai berikut:

Nilai = Jumlah Skor yang Diperoleh x 100
Jumlah Skor Maksimum

Selain itu dihitung juga persentase untuk menentukan keputusan belajar siswa dengan rumus:
Np = n / N x 100%

Keterangan :
Np : Nilai persentase hasil belajar siswa.
n : Nilai yang diperoleh siswa dari nilai tes hasil belajar.
N : Jumlah seluruh nilai tes hasil belajar.



Data Observasi
Untuk menentukan keaktifan siswa dalam observasi maka di tentujan dengan rumus dibwah ini:

Skor Aktifitas Siswa = deskriptor yang muncul x 100
Jumlah maksimum descriptor

Dari hasil perhitungan keaktifan siswa maka diperoleh rumus untuk menghitung rata-rata keaktifan kelas dengan rumus:
Persentase rata-rata keaktifan siswa dikelas = Nm/Jumlah Desriptor x 100%
N

Keterangan :
Nm = Jumlah sekuiruh item yang di cek
N = Jumlah siswa



Dierich dalam Hamalik menyatakan, aktivitas belajar dibagi kedalam beberapa kelompok, diantaranya yaitu sebagai berikut:
1. Aktivitas Visual
2. Aktivitas Verbal
3. Aktivitas Mendengarkan
4. Aktivitas Menulis
5. Aktivitas Metrik/Psikomotor
6. Aktivitas Mental

Selasa, 25 Desember 2007

isi-lks-berbasis-web

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu tujuan pembelajaran matematika dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinal, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba.

Peserta didik harus mempelajari matematika melalui pemahaman dan aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. National Council of Teachers of Matematics atau NCTM (2000) menggariskan bahwa dalam mempelajari matematika peserta didik tidak hanya bergantung pada "apa" yang diajarkan, tetapi juga bergantung pada "bagaimana" matematika itu diajarkan, atau bagaimana peserta didik belajar.

Pada dasarnya pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dan peserta didik. Proses komunikasi yang terjadi tidak selamanya berjalan dengan lancar, bahkan proses komunikasi dapat menimbulkan salah pengertian, ataupun salah konsep. Untuk itu guru harus mampu memberikan suatu alternatif pembelajaran bagi peserta didiknya agar dapat memahami konsep-konsep yang telah diajarkan.

Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu alternatif pembelajaran yang tepat bagi peserta didik karena LKS membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis (suyitno, 1997:40). Tetapi pada kenyataannya LKS yang telah dimiliki oleh peserta didik selama ini belum mampu membantu dalam menemukan konsep, karena hanya berisi materi dan soal-soal. Selain itu ditinjau dari segi penyajiannya pun kurang menarik.

Model pembelajaran matematika yang efektif dan menarik adalah model pembelajaran yang memiliki nilai relevansi dengan pencapaian daya matematika, memberi peluang untuk bangkitnya kreativitas, mampu mengembangkan suasana belajar mandiri, menarik perhatian peserta didik dan sejauh mungkin memanfaatkan momentum kemajuan teknologi khususnya fungsi teknologi informasi.

Thompson, dkk. (2000) menyatakan, "E-learning is instructional content or learning experiences delivered or enabled by electronic technology." Pemanfaatan teknologi elektronik dalam pembelajaran memberi penguatan terhadap pola perubahan paradigma pembelajaran. Sistem e-learning merupakan bentuk implementasi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Penggunaan teknologi informasi dan multimedia menjadi sebuah cara yang efektif dan efisien dalam menyampaikan informasi. Komputer merupakan salah satu teknologi informasi yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran matematika. Banyak hal abstrak atau imajinatif yang sulit dipikirkan peserta didik, dapat dipresentasikan melalui simulasi komputer. Latihan dan percobaan-percobaan eksploratif matematika dapat dilakukan peserta didik dengan menggunakan program-program sederhana untuk penanaman dan penguatan konsep, membuat pemodelan matematika, dan menyusun strategi dalam memecahkan masalah.

Internet merupakan salah satu program yang memanfaatkan media komputer. Penggunaan Internet untuk keperluan pendidikan yang semakin meluas terutama di negara-negara maju, merupakan fakta yang menunjukkan bahwa dengan media ini memang dimungkinkan terselenggaranya proses belajar mengajar yang lebih efektif. Hal itu terjadi karena internet mempunyai ciri khas dibanding dengan media yang lain.

Berangkat dari hal itulah penulis menyampaikan gagasan untuk menggunakan lembar kerja siswa (LKS) matematika interaktif yang diintegrasikan dengan website sebagai inovasi dalam dunia pendidikan. Gagasan ini diwujudkan dalam bentuk karya tulis dengan judul ”Lembar Kerja Siswa (LKS) Matematika Interaktif Model E-Learning (Electronic Learning) Berbasis Web”.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah yang diangkat dalam karya tulis ini adalah sebagai berikut ini.

a. Bagaimana model lembar kerja siswa (LKS) matematika interaktif model e-learning berbasis web?.

b. Bagaimana pengembangan program lembar kerja siswa (LKS) matematika interaktif model e-learning berbasis Web pada Mata Pelajaran Matematika?.

C. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan krya tulis ini sebagai berikut.

a. Memaparkan model lembar kerja siswa (LKS) interaktif melalui e-learning berbasis Web sebagai pembelajaran.

b. Mengetahui bagaimanakah pengembangan program pembelajaran dalam penerapan lembar kerja siswa (LKS) melalui e-learning berbasis Web pada Mata Pelajaran Matematika.

D. MANFAAT PENULISAN

Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan karya tulis sebagai berikut.

a. Memberikan informasi model LKS interaktif berbasis Web yang dapat dimanfaatkan oleh para peserta didik dan guru serta masyarakat dalam pembelajaran Matematika.

b. Memberikan informasi mengenai konsep LKS interaktif berbasis Web dalam pembelajaran matematika.

c. LKS interaktif berbasis Web ini diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada para guru untuk lebih bervariatif dalam menyampaikan mata pelajaran.

d. LKS interaktif ini dapat direalisasikan menjadi salah satu model pembelajaran di Indonesia.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan karya tulis ini sebagai berikut.

1. Bagian Awal Karya Tulis.

Bagian pendahuluan dalam karya tulis ini berisi judul karya tulis, lembar pengesahan dari Unnes, abstrak yang merupakan uraian singkat isi karya tulis, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar dan daftar lampiran.

2. Bagian Isi.

Bagian isi dalam karya tulis ini dibagi menjadi lima bab sebagai berikut.

a. Bab I Pendahuluan

Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang yang mendasari penulisan, permasalahan yang akan dicari jawabannya, tujuan dan manfaat penulisan serta sistematika penulisan.

b. Bab II Telaah Pustaka

Berisi teori-teori dan pendapat para ahli yang digunakan untuk menjawab permasalah.

c. Bab III Metode Penulisan

Pada bab ini berisi tentang pendekatan penulisan, sumber penulisan, sasaran penulisan dan tahapan penulisan.

d. Bab IV Pembahasan

Pada bab ini teori-teori para ahli dianalisis untuk mencari jawaban dari permasalahan kemudian dideskriptifkan dalam bentuk tulisn maupun gambar.

e. Bab V Penutup

Mengemukakan mengenai simpulan atau jawaban dari permasalahan yang ada, dan berisi saran yang direkomendasikan penulis.

3. Bagian Akhir Karya Tulis.

Bagian akhir karya tulis ini berisi daftar pustaka dan lampiran daftar riwayat hidup penulis.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam Pembelajaran Matematika

Lembar Kerja Siswa (LKS) Merupakan salah satu jenis alat bantu pembelajaran, bahkan ada yang menggolongkan dalam jenis alat peraga pembelajaran matematika. Secara umum LKS merupakan perangkat pembelajaran sebagai pelengkap atau sarana pendukung pelaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Lembar kerja siswa berupa lembaran kertas yang berupa informasi maupun soal-soal (pertanyaan-pertanyaan) yang harus dijawab oleh peserta didik. LKS ini sangat baik digunakan untuk menggalakkan keterlibatan peserta didik dalam belajar baik dipergunakan dalam penerapan metode terbimbing maupun untuk memberikan latihan pengembangan. Dalam proses pembelajaran matematika, LKS bertujuan untuk menemukan konsep atau prinsip dan aplikasi konsep atau prinsip.

LKS merupakan stimulus atau bimbingan guru dalam pembelajaran yang akan disajikan secara tertulis sehingga dalam penulisannya perlu memperhatikan kriteria media grafis sebagai media visual untuk menarik perhatian peserta didik. Paling tidak LKS sebagai media kartu. Sedangkan isi pesan LKS harus memperhatikan unsur-unsur penulisan media grafis, hirarki materi (matematika) dan pemilihan pertanyaan-pertanyaan sebagai stimulus yang efisien dan efektif. (Hidayah, 2007:8)

Tujuan penggunaan LKS dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut.

1. Memberi pengetahuan, sikap dan keterampilan yang perlu dimiliki oleh peserta didik.

2. Mengecek tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah disajikan.

3. Mengembangkan dan menerapkan materi pelajaran yang sulit disampaikan secara lisan.

Sedangkan manfaat yang diperoleh dengan penggunaan LKS dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut.

  1. Mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran.
  2. Membantu peserta didik dalam mengembangkan konsep.
  3. Melatih peserta didik dalam menemukan dan mengembangkan keterampilan proses.
  4. Sebagai pedoman guru dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran.
  5. Membantu peserta didik memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar.
  6. Membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis. (Suyitno, 1997:40).

Langkah-langkah menyusun LKS adalah sebagai berikut.

1. Analisis kurikulum untuk menentukan materi yang memerlukan bahan ajar LKS.

2. Menyusun peta kebutuhan LKS.

3. Menentukan judul-judul LKS.

4. Penulisan LKS.

a. Rumusan kompetensi dasar LKS diturunkan dari buku pedoman khusus pengembangan silabus.

b. Menentukan alat penilaian.

c. Menyusun materi.

(Abadi, Hartono, Junaedi, 2005 dalam Rahmawati, 2006:25).

Ada dua macam lembar kerja siswa (LKS) yang dikembangkan dalam pembelajaran di sekolah.

1. Lembar Kerja Siswa Tak Berstruktur.

Lembar kerja siswa tak berstruktur adalah lembaran yang berisi sarana untuk materi pelajaran, sebagai alat bantu kegiatan peserta didik yang dipakai untuk menyampaiakn pelajaran. LKS merupakan alat bantu mengajar yang dapat dipakai untuk mempercepat pembelajaran, memberi dorongan belajar pada tiap individu, berisi sedikit petunjuk, tertulis atau lisan untuk mengarahkan kerja pada peserta didik.

2. Lembar Kerja Siswa Berstruktur.

Lembar kerja siswa berstruktur memuat informasi, contoh dan tugas-tugas. LKS ini dirancang untuk membimbing peserta didik dalam satu program kerja atau mata pelajaran, dengan sedikit atau sama sekali tanpa bantuan pembimbing untuk mencapai sasaran pembelajaran. Pada LKS telah disusun petunjuk dan pengarahannya, LKS ini tidak dapat menggantikan peran guru dalam kelas. Guru tetap mengawasi kelas, memberi semangat dan dorongan belajar dan memberi bimbingan pada setiap siswa. (Indrianto, 1998:14-17).

Rumaharto (dalam Hartati, 2002:22) menyebutkan bahwa LKS yang baik harus memenuhi persyaratan konstruksi dan didaktik. Persyaratan konstruksi tersebut meliputi syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosakata, tingkat kesukaran dan kejelasan yang pada hakekatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh pihak pengguna LKS yaitu peserta didik sedangkan syarat didaktif artinya bahwa LKS tersebut haruslah memenuhi asas-asas yang efektif

Lembar kerja dapat digunakan sebagai pengajaran sendiri, mendidik siswa untuk mandiri, percaya diri, disiplin, bertanggung jawab dan dapat mengambil keputusan. LKS dalam kegiatan belajar mengajar dapat dimanfaatkan pada tahap penanaman konsep (menyampaikan konsep baru) atau pada tahap penanaman konsep (tahap lanjutan dari penanaman konsep). Pemanfaatan lembar kerja pada tahap pemahaman konsep berarti LKS dimanfaatkan untuk mempelajari suatu topik dengan maksud memperdalam pengetahuan tentang topik yang telah dipelajari pada tahap sebelumnya yaitu penanaman konsep (TIM PPPG Matematika dalam Rahmawati, 2006:27).

B. Tinjauan Pembelajaran Berbantuan Komputer (PBK)

Terdapat beberapa bentuk interaksi pembelajaran berbantukan komputer, yaitu bentuk latihan dan praktek (drill and pratice), tutorial, permaianan (game), simulasi (simulation), penemuan interaktif, presentasi atau demonstrasi, komunikasi tes, sumber informasi, dan pemecahan masalah (problem solving). (Kusumah, 2006:398).

Dalam kegiatan latihan, komputer memberikan soal-soal mengenai suatu topik untuk dipecahkan oleh peserta didik dan komputer memberikan umpan balik berdasarkan respon peserta didik tersebut. Kegiatan tutorial dimaksudkan untuk mengajarkan informasi baru mengenai suatu topik pelajaran. Permainan dapat berfungsi sebagai penyaji bahan pelajaran baru atau juga sebagai penguat terhadap pelajaran yang telah diperoleh peserta didik melalui kegiatan lain. Dalam simulasi atau permodelan, komputer menyediakan simulasi atau model suatu konsep atau kejadian untuk diberi masukan oleh peserta didik dan komputer akan memberi respon terhadap masukan tersebut sebagaimana sistem yang sesungguhnya akan bertindak.

Pola tutorial interaktif diwujudkan dalam bentuk menampilkan suatu materi melalui komputer sebagai alat untuk mengetahui penguasaan dan pemahaman peserta didik dalam topik tertentu, memberi penguatan terhadap respon peserta didik yang tepat, mendiagnosa kekeliruan, menyediakan pilihan bagi peserta diidk dengan bakat yang berlainan. Peserta didik dilatih berpikir melalui pemberian stimulus pertanyaan yang membuat peserta didik berkonsentrasi pada materi yang disajikan.

Pola tutorial dalam bentuk bahan ajar interaktif disusun secara sistematis peserta didik memahami konsep melalui teks, hiperteks dan hipermedia. Melalui hiperteks, tulisan dan materi disajikan dalam bentuk animasi secara non-linear sehingga akan kelihatan lebih hidup dan bervariasi. Hipermedia menggunkan beragam jenis media yang terhubung dalam suatu sistem yang membolehkan penggunanya untuk menggunkan berbagai media lainnya secara non-linear. Hanya saja model tutorial harus memperhatikan tingkat kesulitan materi (difficulty level), materi prasyarat (prerequisite) dan keterbatasan materi (readability). (Kusumah, 2006:399).

Eisenberg dalam Sugilar (1996) mengajukan karakteristik PBK sebagai berikut.

1. Peserta didik dimungkinkan untuk belajar kapan saja.

2. Peserta didik tak dapat melanjutkan belajar tanpa permasalahan yang menyeluruh pada materi yang dipelajari.

3. Terdapat respon yang segera terhadap setiap pertanyaan yang diberikan peserta didik.

4. Jika peserta didik menjawab salah dan memalukan maka tak ada orang lain yang tahu.

5. Memungkinkan setiap peserta didik berperan serta dalam proses belajar, dan tak ada kemungkinan pelajaran di dominasi oleh segelintir orang.

Manfaat PBK dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.

1. Meningkatkan interaksi peserta didik dalam pembelajaran melalui pengelolaan tanggapan peserta didik dan umpan balik berdasarkan tanggapan tersebut.

2. Individualisasi belajar yang memperhatikan kemampuan awal dan kecepatan belajar peserta didik

3. Efektivitas biaya karena dapat direproduksi dan disebarkan dengan biaya rendah.

4. Meningkatkan motivasi belajar karena peserta didik dapat mengendalikan pembelajaran dan mendapat umpan balik yang segera.

5. Kemudahan untuk mencatat kemajuan peserta didik dalam menguasai materi yang diberikan.

6. Terjaminnya keutuhan pelajaran karena hanya topik yang perlu saja yang dituangkan dalam program komputer, sedangkan topik yang tidak relevan secara sengaja tidak disajikan. (Hannafin dan Peck, 1988 dalam Sugilar, 1996).

Kendala penerapan PBK diantaranya adalah sebagai berikut ini. (Hannafin & Peck, 1988 dalam Sugilar, 1996)

1. Sangat bergantung pada kemampuan membaca dan keterampilan visual peserta didik.

2. Membutuhkan tambahan keterampilan pengembangan di luar keterampilan yang dibutuhkan untuk pengembangan pembelajaran yang lama.

3. Memerlukan waktu pengembangan yang lama.

4. Kemungkinan peserta didik untuk belajar secara tak sengaja (intidental learning) menjadi terbatas.

5. Hanya bertindak berdasarkan masukan yang telah terprogram sebelumnya, tidak dapat bertindak secara spontan.

Kendala-kendala tersebut dapat diminimalkan dengan :

1. Menggabungkan PBK dengan peralatan lain seperti videodisc dan audiodisc sehingga tidak terlalu bergantung pada tampilan layar komputer

2. Memilih paket PBK yang sudah dikembangkan pihak lain untuk menghindari lamanya waktu dan keterampilan mengembangkan PBK sendiri, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran dan karakteristik pembelajaran peserta didik.

3. Menempatkan PBK sebagai tambahan dalam kegiatan belajar yang melibatkan tutor dan bahan yang tercetak. (Hannafin & Peck, 1988 dalam Sugilar, 1996).

C. E-learning (Electronic Learning)

1. Pengertian e-learning

Pembelajaran elektronik atau e-learning telah dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wilson, 2001 dalam Siahaan, 2002). Berbagai istilah digunakan untuk mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaran elektronik, antara lain adalah: on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, atau web-based learning.

Banyak pakar pendidikan memberikan definisi mengenai e-learning, seperti yang dipaparkan oleh Thompson, Ganxglass dan Simon dalam Yaniawati (2003) berikut ini, "E-learning is instructional content or learning experiences delivered or enabled by electronic technology". Kemudian Thompson juga menyebutkan kelebihan e-learning yang dapat memberikan fleksibilitas, interaktifitas, kecepatan, visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing teknologi. Menurut Azwan bin Abidin & Rozita bt Nawi (2002a) dalam Yaniawati (2003), e-learning merupakan pembelajaran yang menggunakan sistem online sebagai medium perantara di antara guru dan pelajar. Belajar melalui online ini akan memudahkan kedua belah pihak, karena penyampaian materi ajar lebih cepat, mudah dan efisien dibanding dengan cara-cara yang lain. Guru dapat memberikan materi pelajaran lewat internet yang dapat diakses setiap saat dan di mana saja. Peserta didik juga tidak perlu harus selalu belajar di kelas untuk mendapatkan informasi mengenai materi yang ingin diperolehnya. Bahkan peserta didik dapat mengembangkan proses belajarnya dengan mencari referensi dan informasi dari sumber lain.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, e-learning menggunakan sistem jaringan elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk penyampaian materi ajar, interaksi ataupun evaluasi pembelajaran. Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah media elektronik yang dimaksudkan dalam system jaringan ini. Dengan sistem jaringan ini pula, e-learning dapat menghubungkan peserta didik dengan sumber belajarnya (database, pakar/guru, perpustakaan) yang secara fisik terpisah atau bahkan berjauhan. Interaktifitas dalam hubungan tersebut, sebagaimana diutarakan di atas, dapat dilakukan secara langsung (synchronous) maupun tidak langsung (asynchronous).

2. Fungsi Pembelajaran Elektronik

Setidaknya ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik didalam kegiatan pembelajaran di kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi). (Siahaan, 2002).

a. Suplemen (Tambahan)

Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), apabila peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban atau keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya pilihan, peserta didik yang memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.

b. Komplemen (Pelengkap)

Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di kelas. Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.

Materi pembelajaran elektronik dikatakan sebagai pengayaan, apabila peserta didik yang dapat menguasai/memahami materi pelajaran pada saat tatap muka dengan cepat diberikan kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran yang disajikan guru di dalam kelas.

Dikatakan sebagai program remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas (slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk mereka. Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi pelajaran yang disajikan guru di kelas.

c. Substitusi (Pengganti)

Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan pembelajaran/pembelajaran kepada para Peserta didiknya. Tujuannya agar para Peserta didik dapat secara fleksibel mengelola kegiatan pembelajarannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari Peserta didik. Ada 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih peserta didik, yaitu: (1) sepenuhnya secara tatap muka (konvensional), (2) sebagian secara tatap muka dan sebagian lagi melalui internet, atau bahkan (3) sepenuhnya melalui internet.

Alternatif model pembelajaran mana pun yang akan dipilih Peserta didik tidak menjadi masalah dalam penilaian. Karena ketiga model penyajian materi pembelajaran mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Jika Peserta didik dapat menyelesaikan program pembelajarannya dan lulus melalui cara konvensional atau sepenuhnya melalui internet, atau bahkan melalui perpaduan kedua model ini, maka institusi penyelenggara pendidikan akan memberikan pengakuan yang sama. Keadaan yang sangat fleksibel ini dinilai sangat membantu Peserta didik untuk mempercepat penyelesaian pembelajarannya.

3. Manfaat E-Learning

E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan atau materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara peserta didik dengan guru atau instruktur maupun antara sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, guru atau instruktur dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula (Siahaan, 2002).

Secara lebih rinci, manfaat e-learning dapat dilihat dari 2 sudut, yaitu dari sudut peserta didik dan guru:

a. Dari Sudut Peserta Didik

Adanya kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitas belajar yang tinggi. Artinya, peserta didik dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang. Peserta didik juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat. Dengan kondisi yang demikian ini, peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

b. Dari Sudut Guru

Adanya kegiatan e-learning dari sudut pandang guru atau instruktur dapat memberikan manfaat sebagai berikut.

1) lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi,

2) mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak,

3) mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan guru/Guru/instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang,

4) mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan

5) memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik. (Soekartawi, 2003),

Sedangkan manfaat pembelajaran elektronik menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996) dalam Siahaan (2002) terdiri atas 4 hal, yaitu:

1) Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity)

Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru atau instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam proses pembelajaran.

Pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan guru atau instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani. Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran elektronik. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas.

2) Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility)

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru atau instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru atau instruktur.

Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional. Dalam kaitan ini, Universitas Terbuka Inggris telah memanfaatkan internet sebagai metode/media penyajian materi. Sedangkan di Universitas Terbuka Indonesia (UT), penggunaan internet untuk kegiatan pembelajaran telah dikembangkan. Pada tahap awal, penggunaan internet di UT masih terbatas untuk kegiatan tutorial saja atau yang disebut sebagai “tutorial elektronik”.

3) Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to teach a global audience)

E-learning yang mempunyai fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

4) Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities)

Fasilitas yang tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping itu, penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun atas hasil penilaian guru atau instruktur selaku penanggung jawab atau pembina materi pembelajaran itu sendiri.

Pengetahuan dan keterampilan untuk pengembangan bahan belajar elektronik ini perlu dikuasai terlebih dahulu oleh guru atau instruktur yang akan mengembangkan bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan pengelolaan kegiatan pembelajarannya sendiri, harus ada komitmen dari guru atau instruktur yang akan memantau perkembangan kegiatan belajar dan sekaligus secara teratur memotivasi peserta didik.

Beberapa manfaat e-learning yang dapat diperoleh dalam penerapannya bagi organsiasi belajar, adalah sebagai berikut.

1) Peningkatan produktifitas; melalui e-learning waktu untuk perjalanan dapat direduksi sehingga produktifitas peserta didik maupun guru tidak akan hilang karena kegiatan perjalanan yang harus dilakukan untuk memperoleh proses pembelajaran.

2) Mempercepat proses inovasi; kompetensi sumber daya manusia juga dapat mengalami depresiasi. Pembaharuan kompetensi tersebut dapat dilakukan melalui e-learning sehingga kompetensi selalu memberi nilai melalui kreatifitas dan inovasi sumber daya manusia.

3) Efisiensi; proses pembangunan kompetensi dapat dilakukan dalam waktu yang relatif lebih singkat dan mencakup jumlah yang lebih besar.

4) Fleksibel dan interaktif; kegiatan e-learning dapat dilakukan dari lokasi mana saja selama pengguna memiliki koneksi dengan sumber pengetahuan tersebut dan interaktifitas dimungkinkan secara langsung atau tidak langsung dan secara visualisasi lengkap (multimedia) ataupun tidak.

D. Internet Sebagai Media Pembelajaran Elektronik

Sampai sekarang belum ada definisi secara pasti tentang apa arti internet itu. Akan tetapi secara teoritikal internet dapat diartikan sebagai jaringan kerja (network) berbagai komputer di seluruh dunia yang semuanya saling terkait. Jaringan tersebut terdiri mulai PC, jaringan local berskala kecil, jaringan kelas menengah, hingga jaringan-jaringan utama yang menjadi tulang punggung internet seperti NSFnet, NEARnet, SURAnet dan lain-lain.

Internet mempunyai potensi yang besar dalam e-learning. Pertama, internet bisa diakses pada saat-saat (waktu) yang dikehendaki. Dengan adanya sumber online, peserta didik akan memperoleh data, ide serta berbagai pengetahuan yang ada. Kedua, peserta didik maupun guru bisa mengeluarkan pendapat secara bebas mengenai materi ajar tanpa adanya hambatan psikologis, sebagaimana bila pembnelajaran dilakukan dengan tatap muka. Ketiga, masyarakat umum dapat pula mengakses, mengkoreksi, dan mengendalikan aplikasi serta materi ajar. Selebihnya, internet dapat memberikan peluang untuk mengembangkan wawasan secara lebih luas dengan cara mengkonfirmasi bahan dengan sumber bacaan dari situs lainnya.

Keserasian dan sinergi antara berbagai piranti yang terlibat dalam sistem elektronis, serta dukungan penguasaan bahasa yang baik, akan menjadikan Internet sebagai satu alternatif pembelajaran yang efektif. Pembelajaran berbasis web merujuk kepada pengajaran yang disampaikan melalui jaringan WWW di mana bahan pengajaran, kumpulan diskusi, ujian dan lain-lain adalah berlandaskan web. Menurut B.H. Khan (2001) dalam Hardjito (2002) sistem pembelajaran berbasis web merupakan sistem pembelajaran yang terbuka dan fleksibel.

Alternatif sistem pengajaran yang ditawarkan oleh sistem pembelajaran berbasis web ini akan meningkatkan minat dan motivasi untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru yang tidak mungkin dapat diterima dari sebuah kelas tradisional. Contohnya, penggunaan e-mail sebagai alat komunikasi untuk bertukar-tukar pengumuman dalam suasana yang tiada batasan.


BAB III

METODE PENULISAN

A. Pendekatan Penulisan

Pendekatan penulisan karya tulis ini menggunkan studi deskriptif yaitu mengumpulkan data sebanyak-banyaknya mengenai faktor-faktor yang merupakan pendukung untuk menyelesaikan permaslahan yang ada mengenai lembar kerja siswa (LKS), metode interaktif, dan model pembelajaran melalui internet (Web). Data tersebut kemudian dianalisis untuk dirumuskan solusi yang tepat dari permasalahan karya tulis ini.

B. Sumber Penulisan

Sumber data yang dipakai dalam penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut.

1. Studi Pustaka

Berdasarkan permasalahan yang muncul, penulis mencari sumber-sumber pustaka yang relevan, mempelajari, dan menuangkannya dalam telaah pustaka.

2. Dokumentasi

Dokumentasi yang dilakukan berupa penghimpunan berbagai dokumen yang ada dalam majalah, surat kabar, jurnal maupun buletin ilmiah yang kemudian dihimpun berdasarkan prioritas manfaat sebagai landasan teori.

C. Sasaran Penulisan

Sasaran penulisan karya tulis ini adalah seluruh peserta didik di Indonesia pada jenjang SD, SMP, dan SMA.

D. Tahapan Penulisan

Melihat permasalahan yang muncul ditengah masyarakat, penulis mencari data-data dan pendapat para ahli yang relevan untuk memberikan solusi yang tepat. Kegiatan analisis dilakukan dengan observasi terhadap buku-buku, hasil penelitian, naskah, dan sumber-sumber lain yang relevan dengan permasalahan yang diangkat. Proses analisis data yang dilakukan dalam penulisan karya tulis ini mencakup tiga komponen pokok sebagai berikut ini.

1. Reduksi Data

Reduksi data adalah proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi dari data yang diperoleh berdasarkan sumber pustaka. Reduksi data merupakan bagian dari analisis data yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, dan membuang data yang tidak penting agar simpulan dapat diambil.

2. Sajian Data

Sajian data merupakan susunan informasi yang dapat ditarik dalam penulisan karya tulis ini yang disajikan secara lengkap baik data yang diperoleh melalui studi pustaka maupun dokumentasi kemudian dianalisis dengan kategori dalam permasalahan yang ada guna memperoleh sajian data yang jelas dan sistematis. Data yang telah terorganisir ini kemudian dijabarkan secara deskriptif dalam bentuk tulisan atau gambar.

3. Penarikan Simpulan

Data yang telah direduksi dan didiskriptifkan dalam bentuk sajian data kemudian diinterpretasikan. Setelah itu barulah ditarik simpulan akhir yang sistematis dan perumusan saran yang relevan dengan permasalahan yang dikaji


BAB IV

PEMBAHASAN

A. Lembar Kerja Siswa (LKS) Interktif Berbasis Web

1. Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Web

Model lembar kerja siswa (LKS) pada karya tulis ini mempunyai pengertian lembar kerja bagi para peserta didik yang disajikan dalam bentuk pertanyaan yang dapat mengkonstruk pemahaman peserta didik tanpa harus didampingi oleh guru. Dalam penggunaan LKS ini digunakan Web sebagai media penyampaiannya kepada peserta didik. Web digunakan karena mempunyai jaringan luas dan akan memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk memilih waktu, tempat maupun materi yang akan dipelajari.

LKS interaktif ini memiliki karakteristik sendiri dan berbeda dengan LKS yang beredar di sekolah saat ini. Adapun perbedaan LKS konvensional dan LKS interaktif berbasis web terlihat pada tabel berikut.

No

Perbedaan

LKS Konvensional

LKS interktif berbasis Web

1.

Materi

Disajikan dalam bentuk deskriptif

Disajikan dalam bentuk pertanyaan yang dapat mengkonstruk pemahaman peserta didik

2.

Gambar, grafik maupun tulisan

Disajikan dalam keadaan diam

Disajikan bergerak dan langkah per langkah, ketika peserta didik tidak mengerti dapat diulang.

3.

Komunikasi

Dilakukan dengan satu arah

Dua arah (ketika peserta didik memberikan jawaban atau respon LKS ini akan memberikan respon/umpan balik)

4.

Isi

Menekankan banyak pada soal-soal.

Menekankan pada penanaman konsep matematika, soal hanya dijadikan sebagai pengantar pemahaman peserta didik

5

Tampilan

Disajikan pada lembaran kertas.

Disajikan lebih menarik dengan tampilan gambar yang disukai oleh anak-anak dan tampilannya lebih hidup.

Tabel 1. Perbedaan LKS konvensional dan LKS interaktif berbasis Web

Dari tabel tersebut terlihat jelas perbedaan antar kedua LKS. Berdasarkan tabel tersebut pula dapat diprediksi bahwa LKS interaktif ini akan mampu diterima di dunia pendidikan sebagai sebuah pelengkap dalam proses pembelajaran matematika.

Kemajuan teknologi komputer dan internet turut mendukung perkembangan model pembelajaran. Penggunaan komputer tidak terbatas dan memiliki potensi yang besar sebagai media dalam pembelajaran matematika. Penggunaan LKS matematika interaktif berbasis web ini akan mampu membantu peserta didik dalam mencapai tujuan dari kurikulum. Peserta didik dapat mengatur kecepatan belajarnya, disesuaikan dengan tingkat kemampuannya. Mereka dapat mengulang beberapa kali sehingga benar-benar menguasai materi yang harus dipahaminya. LKS ini juga dapat diperbaharui sewaktu-waktu jika memang dipandang masih ada kekurangan dan tidak relevan dengan perkembangan jaman. Penggunan Web sebagai media penyampaian LKS dimaksudkan agar peserta didik dapat memilih waktu dan tempat untuk belajar.

2. Konsep Model LKS Matematika Interaktif dan Web

Model LKS matematika interaktif berbasis web berbeda dengan LKS yang beredar di sekolah-sekolah. LKS matematika interaktif berbasis web ini digunakan untuk menyampaikan materi dengan serangkaian pertanyaan-pertanyaan sebagai pengantar peserta didik dalam mengkonstruk pemahamannya. Serangkaian pertanyaan tersebut satu dengan yang lain saling terkait. Sehingga peserta didik harus belajar menggunakan LKS ini secara runtut dari awal sampai akhir. Peserta didik mempelajari materi yang disajikan melalui pertanyaan sehingga rumus atau konsep itu ditemukan sendiri oleh peserta didik.

Secara garis besar LKS matematika interaktif terdiri dari 3 bagian sebagai berikut ini.

a. Menu Utama LKS

Di dalam menu utama terdapat menu pilihan untuk menjalankan lembar kerja siswa (LKS). Adapun tampilan LKS interaktif sebagai berikut.

Gambar 1. Tampilan menu utama LKS

Keterangan:

a. Judul berisi jenjang pendidikan dan kelas

b. Tampilan Inti LKS merupakan bagian untuk menampilkan pertanyaan, gambar maupun grafik.

c. Home untuk perintah kembali ke halaman Web utama.

d. Materi untuk menuju halaman materi pembelajaran.

e. LKS merupakan menu pilihan model LKS 1/LKS 2/LKS 3

f. Tujuan untuk menunjukan tujuan pembelajaran.

g. Manfaat untuk menunjukan manfaat pembelajaran.

b. Lembar Kerja Siswa

.

Gambar 2. Tampilan soal LKS

Keterangan:

a. Perintah kepada pengguna LKS

b. Gambar ataupun grafik yang dipelajari mempunyai animasi.

c. Pertanyaan-pertanyaan dan kolom jawaban.

d. Tombol menuju ke menu utama.

e. Tombol pilihan soal tapi pengguna disarankan memilih soal secara urut karena pertanyaan disusun runtun dan sistematis.

f. Tombol menuju simpulan materi.

g. Tombol Next untuk menuju soal selanjutnya dam tombol Back untuk kembali ke soal sebelumnya.

Tampilan simpulan dari materi yang dipelajari sebelumnya tampak pada gambar berikut.

Gambar 3. Tampilan simpulan LKS

Keterangan:

a. Gambar yang dipelajari dan dicari rumus atau konsep.

b. Pertanyaan yang menggarahkan peserta didik untuk dapat menemukan materi yang telah dipelajari.

c. Menu-menu pilihan

c. Desain Website

Homepage merupakan halaman awal (index) munculnya sebuah siteus dalam internet. Pada tampilan homepage terdapat menu – menu pilihan untuk memberikan informasi yang lebih lengkap. Seperti pada tampilan gambar 4.

Gambar 4 . Tampilan hompage LKS matematika intearktif

Keterangan:

a. Logo adalah lambang pembuat web dan LKS matematika interaktif

b. Nama lembaga pembuat Web dan LKS

c. Menu Pilihan

1. Home merupakan menu kembali ketampilan awal website.

2. Jenjang Pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA) digunakan untuk memilih jenjang pendidikan dan kelas. Khusus untuk SD/MI dimulai dari kelas 5. Adapun contoh menu pilihan tersebut sebagai berikut.


Gambar 5. Contoh tampilan pemilihan jenjang pendidikan dan materi

Peserta didik atau pengguna dapat memilih jenjang pendidikan apa yang akan dipelajari beserta materinya.

3. Download merupakan menu yang digunakan untuk mendowload LKS yang ada.

d. Artikel atau berita pendidikan merupakan suatu informasi terkini yang ada di dunia pendidikan, sekaligus merupakan tempat pererta didik atau pengguna dapat saling berhubungan dengan peserta didik yang lain lewat saran maupun komentar.

e. Link ke situs lain Web LKS matematika interaktif ini juga menyediakan menu untuk mengakses situs yang lain.

f. Login menu yang mengharuskan peserta didik untuk menjadi anggota dalam situs sebelum menggunakan LKS. Setelah menjadi anggota peserta didik akan mendapatkan akses untuk menggunakan LKS, berkomunikasi dengan pengguna atau peserta didik yang lain, dan download LKS matematika interaktif.

3. Pembuatan LKS Matematika Interaktif

Pembuatan LKS matematika interaktif berbasis web secara garis besar terdiri dari tiga langkah sebagai berikut.

a. Membuat LKS matematika interaktif

Pembuatan LKS ini dimulai dengan pembuatan konsep LKS. Konsep ini ditulis dalam bentuk script atau naskah, naskah tersebut kemudian dikonsultasikan kepada para ahli matematika. Hal ini dilakukan agar LKS yang disusun nantinya tidak ada kesalahan pada materinya. Ketika naskah tersebut terdapat kesalahan, maka naskah diperbaiki. Dan setelah naskah tidak terjadi kesalahan, maka akan dilanjutkan ke proses mendesain LKS dalam komputer.

Desain model Lembar Kerja Siswa (LKS) ini dirancang dengan menggunakan software program aplikasi SWiSHmax. Desain ini kemudian diberikan animasi supaya lebih menarik tetapi tetap memperhatikan aturan-aturan yang ada dalam matematika. Setelah mendesain model LKS dan memberikan efek animasi pada obyek LKS, selanjutnya desain tersebut dirubah kebentuk HTML atau format swf. Format inilah yang akan digabung dengan web yang akan diupload ke dalam internet.

b. Membuat Homepage dan Web didesain

Sebelum membuat web, homepage didesain dengan menggunakan software Macromedia Dreamweaver MX, atau dapat dibuat dengan memakai bahasa htm, asp, php, dan bahasa pemrograman yang lain. Dalam pembuatan homepage ini memerlukan kekreatifan untuk memperoleh tampilan yang indah. Semakin kreatif, maka tampilan hompage dan Web semakin indah. Hal ini akan membuat peserta didik lebih tertarik dan nyaman untuk belajar matematika.

c. Menggabungkan LKS matematika interaktif dengan Web

Setelah LKS interaktif dan Web dibuat langkah selanjutnya adalah menggabungkan keduanya. Menggunakan bahasa program yang telah tersedia dalam Dreamweaver MX atau bahasa htm, asp, php atau yang lain.

Setelah dihasilkan LKS matematika interaktif berbasis web ini, untuk selanjutnya dilakukan uplaod ke internet. Upload ini dapat dilakukan dengan menginduk atau mengikuti server yang telah ada atau membuat server sendiri.

B. Pengenlan dan Pengembangan LKS Matematika Interaktif Berbasis Web

Untuk mempopulerkan penggunaan LKS matematika interaktif berbasis web di dunia pendidikan, maka perlu diadakan pengenalan. Seperti terus berkembangnnya teknologi setelah LKS ini dikenal di dunia pendidikan perlu adanya pengembangan. Konsep pengenalan dan pengembangan LKS interaktif ini dalam dunia pendidikan dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini.

1. Pengenalan di Sekolah-Sekolah.

Melalui pengenalan LKS matematika di sekolah-sekolah merupakan upaya yang efektif. Pengenalan ini sekaligus merupakan upaya pengembangan LKS karena dari sekolah-sekolah akan memberikan masukkan, saran maupun kritik mengenai kekurangan dan kesalahan didalam LKS ini.

2. Pelatihan dan Seminar

Sebagai suatu hal yang baru LKS matematika interaktif belum dikenal dan cara penggunaan belum diketahui. Melalui pelatihan dan seminar akan dijelaskan cara penggunaan dan manfaat yang diperoleh menggunakan LKS ini, dengan demikian peserta pelatihan akan mengetahui dan dapat menggunakannya sebagai alat bantu pembelajaran matematika di sekolah.

3. Penelitian Lebih Lanjut

Penelitian lebih lanjut dapat digunkan sebagai upaya pengenalan sekaligus upaya pengembangan LKS matematika interaktif ini. Sebagai upaya pengenalan penelitian akan memberikan gambaran kepada sekolah dan dunia pendidikan. Melalui penelitian lebih lanjut dapat pula mengembangkan LKS karena akan diketahui keefektifan dan kekurangan yang ada.

Lembar kerja peserta didik (LKS) matematika interktif berbasis web memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan LKS berbasis web dibanding dengan model LKS yang lain adalah sebagai berikut ini.

1. Peserta didik diajak untuk menemukan rumus dan konsep dengan pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki sebelumnya melalui serangkaian pertanyaan yang membangun. Hal ini menjadikan pemahaman dan penguasaan materi akan lebih lama dalam ingatan karena peserta didik yang menemukan rumus maupun konsep itu sendiri.

2. LKS matematika interaktif bebasis web ini mampu untuk menampilkan gambar-gambar yang abstrak (sulit dibayangkan) semisal bangun ruang, grafik dan sebagainya. Gambar maupun grafik ini dapat ditampilkan dengan bentuk dan animasi yang lebih nyata dan menarik sehingga peserta didik akan belajar dengan suasana senang. Hal ini akan menjadikan materi yang disampaikan akan secara cepat dipahami peserta didik.

Kekurangan LKS berbasis web adalah sebagai berikut ini.

1. Pembuatan LKS berbasis web membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. Namun kendala ini dapat diatasi dengan adanya kerja sama yang baik antara semua pihak yang terkait.

2. Kemampuan peserta didik dalam menjalankan komputer maupun internet masih kurang. Namun hal ini masih bisa diselesaikan dengan adanya latihan dan mata pelajaran teknologi infomasi di sekolah, serta LKS ini juga dilengkapi dengan petunjuk cara penggunaanya.

Jadi kekurangan dari LKS berbasis web dapat diatasi dengan solusi yang tepat.


BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut ini.

  1. Model LKS matematika interaktif berbasis web menggunakan berbagai pertanyaan yang sistematis dan berstruktur dalam menyampaikan materi. Serangkaian pertanyaan ini dimaksudkan agar peserta didik mampu menemukan konsep atau rumus matematika yang baru dengan menggunkan pemahaman yang telah dimiliki melalui bantuan pertanyaan yang ada di dalam LKS.
  2. Pengenalan dan pengembangan LKS matematika interaktif ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Promosi ke sekolah-sekolah.

b. Pelatihan dan seminar.

c. Penelitian lebih lanjut.

B. Saran

Berdasarkan pembahasan dan simpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai berikut.

1. Perlu adanya pengembangan lebih lanjut LKS matematika interaktif berbasis web sebagai upaya penyempurnaan dan mengetahui keefektifan penggunaan LKS ini dalam peningkatan kemampuan matematika peserta didik.

2. Apabila terbukti keefektifan LKS matematika interaktif, perlu adanya tindak lanjut oleh guru, sekolah maupun instansi-intansi yang terkait dalam dunia pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

­­­­Artikel Digital Learning. Sabtu, 22 Mei 2004. http://www.impalaunibraw.org didownload pada tanggal 20 Mei 2007.

Hardjito. 2002. Internet Untuk Pembelajaran. http://www.pustekkom.go.id. Di download pada tanggal 21 Mei 2007.

Hidayah, Isti, dkk. 2006. Workshop Pendidikan Matematika 2. Semarang : Jurusan Matematika UNNES.

Indrianto, Lis. 1998. Pemanfaatan Lembar Kerja Siswa Dalam Pengajaran Matematika Sebagai Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Matematika. Semarang: IKIP Semarang.

Kusumah, Yaya S. 2006. Studi Tentang Penerapan Model Pembelajaran Matematika Berbasis Komputer Tipe Interaksi Tutorial Dalam Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Siswa (Makalah) dalam Prosiding Konferensi Matematika XIII. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA Unnes bekerjasama dengan Badan penerbit Universitas Diponegoro.

Rahmawati, Laili. 2006. Meningkatkan Kemampuan Penalaran Matematika Siswa SMP Salafiyah Pekalongan Kelas VII Semester II Tahun 2005/2006 dalam Pembelajaran Garis dan Sudut Melalui Implementasi metode Inkuiri dengan Memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS) (Skripsi). Tidak diterbitkan.

Siahaan, Sudirman. E-Learning (Pembelajaran Elektronik)
Sebagai Salah Satu Alternatif Kegiatan Pembelajaran
di http://www.balitbang.org. didownload pada tanggal 15 Mei 2007.

Soekartawi. 2003. Beberapa Kesulitan Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Web Pada Sistem Pendidikan Jarak Jauh (Obstacles in Applying Web-based Learning for Distance Education System. http://www.seamolec.or.id. didownload pada tanggal 15 Mei 2007.

Sugilar. 1996. Hubungan literasi komputer dengan sikap terhadap pembelajaran berbantuan komputer (tesis). PPS - IKIP Jakarta. http://www1.bpkpenabur.or.id/jelajah/02/sosial.htm. didownload pada tanggal 15 Mei 2007.

Suyitno, Amin, dkk. 1997. Dasar dan Proses Pembelajaran Matematika. Semarang: FMIPA Unnes.

Yaniawati, R. Poppy. 2000. Penerapan E-Learning Dalam Pembelajaran Matematika Yang Berbasis Kompetensi. http://www.jurnalkopertis4.org. didownload pada tanggal 15 Mei 2007.

Powered By Blogger