Assalamu'alaikum...

harap dibaca....

Selamat datang di Blog saya.

Foto Saya
Purwokerto, Jawa Timur, Indonesia

Sabtu, 19 September 2009

PELAKSANAAN METODE DRILL (LATIHAN SIAP) DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

PELAKSANAAN METODE DRILL (LATIHAN SIAP)
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
Oleh: Ahmad Muradi*
Metode pembelajaran bahasa Arab yang sering digunakan oleh
pengajar bagi pemula (baru belajar bahasa Arab) adalah metode drill
(latihan siap). Sebab metode ini sesuai dengan fitrah bahasa dan fitrah
manusia. Yang pertama kali berfungsi panca indra pada manusia adalah
mendengar lalu kemudian berbicara. Di sinilah metode yang satu
ini berperan. Oleh karena itu, guru atau pengajar bahasa (khususnya
bahasa Arab) sangat berkepentingan memahami bagaimana pelaksanaan
metode drill ini dalam pembelajaran bahasa Arab. Sebab yang
menjadi tujuannya adalah agar siswa cepat tcrampil berbahasa Arab
dalam waktu singkat.
Kata-kata kunci: Metode drill, pembelajciran hahasaArab, maharah
(keterampilan)
A. Pendahuluan
Yusuf dan Syaiful Anwar (1995: 151) menginformasikan bahwa negara maju
seperti Amerika, Eropa, dan sebagainya telah menerapkan metodologi pengajaran
bahasa Arab telah berjalan baik. Pengajaran bahasa Arab yang mereka lakukan disertai
alat-aJat peraga/media pengajaran (audio visiucd aids) tersedia lengkap. Sehingga
dalam waktu enam bulan sampai satu tahun saja orang sudah mampu mengikuti kuliahkuliah,
memahami buku-buku, berkomunikasi/berkunjung ke negara-negara Arab.
Bahkan dapat menulis disertasi dengan bahasa Arab.
Hal demikian menjadi tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia. Khususnya
sekolah-sekolah agama maupurt perguruan tinggi Islam yang telah menggunakan
kurikulum yang berorientasi pada agama dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi,
Tujuan pengajaran pada hakikatnya adalah suatu proses mengubah anak didik
sebelum dilibatkan dalam kegiatan tersebut menjadi anak didik sesudah mengalami
kegiatan tersebut dalam waktu tertentu. Oleh karena itu berhasil tidaknya suatu
pengajaran ditentukan oleh berbagai macam faktor diantaranya adalah faktor metode
* Tenaga Pengajar Bahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjannasm
dan Staf Bahasa Arab pada Pusat Pelayanan Bahasa IAIN Antasari Banjarmasin2
FIKRAH, Vol. 5, No. 1, Januari-Juni 2006
BegituJuga dengan pengajaran bahasa Arab. Sumardi (1974: 7) menyatakan: "Dalam
pengajaran bahasa salah satu segi yang sering disoroti adalah segi metode. Sukses
tidaknya suatu program pengajaran bahasa seringkali dinilai dari segi metode yang
digunakan. Sebab metodelah yang menentukan isi dalam mengajarkan bahasa".
LIraian di atas menunjukkan, metode baik metode secara umum maiipun
metode untuk pengajaran bahasa Arab bisa mengarahkan keberhasilan belajar anak
didik serta mendorong keijasama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik
dengan anak didik. Di samping itu metode Juga dapat memberikan inspirasi pada anak
didik melalui proses hubungan yang serasi antara pendidik dan anak didik seiring
dengan tujuan pendidikan (Muhaimin, 1993: 232).
Jadi jelas bahwa salah satu komponen yang sangat menentukan terhadap
berhasil atau tidaknya proses pengajaran adalah metodenya. Sebab dengan metode
motivasi belajar siswa akan bertambah. Sehingga transformasi pelajaran dari guru
kepada siswa akan mencapai sasaran dan keberhasilan. Namun dalam pengajaran
bahasa Arab sering terjadi perbedaan metode yang digunakan oleh seorang guru
dengan guru lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan pandangan atau approach
yang digunakan.
Untuk menentukan metode mana yang tepat, erat sekali hubungannya dengan
approach yang digunakan. Sebab pada dasamya metode-metode merupakan
penjabaran dari approach. Yang dimaksud dengan approach di sini adalah suatu
keyakinan tentang hakikat bahasa dan pengajaran bahasa.
Di samping itu, metode pembelajaran bahasa dipengaruhi pula oelh tujuan
pengajaran bahasa itu sendiri. Sebab tujuan pengajaran bahasa Arab itu akan sangat
berpengaruh dalam menentukan materi yang harus diajarkan dan menentukan sistem
serta metode yang hendak dipergunakan. Menurut AsaduHah (1995: 49) secara garis
besar tujuan pengajaran bahasa ada dua kategori, kategori bahasa sebagai alat dan
kategori bahasa sebagai tujuan.
Bahasa Arab sebagai alat yaitu alat untuk memahami ajaran-ajaran agama
Islam dari sumber asli yang berbahasa Arab. Tentu saja materi pengajarannya
ditekankan pada qira'ah (membaca). Bagaimana membaca yang bcnar serta bagaimana
bisa memahami bacaan. Dengan kata lain, penekanan pengajaran pada penguasaan

4 FIKRAH, Vol. 5, No.1, Januari-Jmi 2006
Adapun metode drill (latihan siap) itu sendiri menurut beberapa penda-pat
memiliki arti sebagai berikut;
a. Suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar di mana siswa
melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, siswa memiliki ketangkasan atau
keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari. (Roestiyah N.K,
1985:125).
b. Suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anakanak
terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. (Zuhairini, dkk, 1983:
106).
c. Suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan
sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau
menyempumakan suatu keterampilan supaya menjadi permanen. (Shalahuddin,
dkk, 1987: 100).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode drill
(latihan siap) adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan Jalan melatih
siswa agar menguasai pelajaran dan terampil.
Dari segi pelaksanaannya siswa teriebih dahulu telah dibekali dengan
pengetahuan secara teori secukupnya. Kemudian dengan tetap dibimbing oleh
guru, siswa disuruh mempraktikkannya sehingga menjadi mahir dan terampil.
2. Tujuan Metode drill (latihan Siap)
Tujuan metode drill (latihan siap) adalah untuk memperoleh suatu
ketangkasan, keterampilan tentang sesuatu yang dipelajari anak dengan
melakukannya secara praktis pengetahuan-pengetahuan yang dipelajari anak itu.
Dan siap dipergunakan bila sewaktu-waktu diperiukan. (Pasaribu dan B.
Simandjuntak, 1986: 112).
Sedangkan menurut Roestiyah N.K (1985: 125-126) dalam strategi belajar
mengajar teknik metode drill (latihan siap) ini biasanya dipergunakan untuk tujuan
agar siswa:
a. Memiliki keterampilan motoris/gerak, seperti menghafal kata-kata, menulis,
mempergunakan alat atau membuat suatu benda; melaksanakan gerak dalam
olah raga.
AHMAD MURADI, Pelaksanaan Metode ... 5
b. Mengembangkan kecakapan intetek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan,
mengurangi, menarik akar dalam hitungan mencongak. Mengenal
benda/bentuk dalam pelajaran matematika, ilmu pasti, ilmu kimia, tanda baca
dan sebagainya.
c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan hal
lain, seperti sebab akibat banjir - hujan; antara tanda hurufdan bunyi -ing, -ny
dan lain sebagainya; penggunaan lambang/simbol di dalam peta dan tarn-lain.
Dari keterangan-keterangan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
tujuan dari metode drill (latihan siap) adalah untuk melatih kecakapan-kecakapan
motoris dan mental untuk memperkuat asosiasi yang dibuat.
3. Kebaikan Metode drill (Latihan Siap)
Menurut Yusufdan Syaifiil Anwar (1997: 66) kebaikan metode drill (latihan
siap) adalah;
a. Dalam waktu yang tidak lama siswa dapat memperoleh pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan.
b. Siswa memperoleh pengetahuan praktis dan siap pakai, mahir dan lancar.
c. Menumbuhkan kebiasaan belajar secara kontinue dan disiplin diri, melatih diri,
belajar mandiri.
d. Pada pelafaran agama dengan melalui metode latihan siap ini anak didJk
menjadi terbiasa dan menumbuhkan semangat untuk beramal kepada Allah.
Sedangkan menurut Zuhairini, dkk, (1983: 107) menguraikan hal tersebut
sebagai berikut:
a. Dalam waktu relatif singkat, cepat dapat diperoleh penguasaan dan
keterampilan yang diharapkanb-
Para murid akan memiliki pengetahuan siap.
c. Akan menanamkan pada anak-anak kebiasaan belajar secara rutin dan
disiplin.
6 FIKRAH, Vot. 5, No.1. Januari-Juni 2006
4. Kekurangan Metode Drill (Latihan Slap)
Team Kurikulum Didakt'k Metodik Kurikulum IKIP Surabaya (1981: 45-46)
dalam Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM menguraikan tentang
kekurangan dari metode drill sebagai berikut:
a. Menghambat bakat dan inisiatif siswa
MengaJar dengan metode drill berarti minat dan inisiatif siswa
dianggap sebagai gangguan dalam belajar atau dianggap tidak layak dan
kemudian dikesampingkan. Para siswa dibawa kepada kofomuitas dan
diarahkan menjadi uniformitas.
b. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan
Perkembangan inisiatif di dalam menghadapi situasi baru atau masalah
baru pelajar menyelesaikan persoalan dengan cara statis. Hal mi bertentangan
dengan prinsip belajar di mana siswa seharusnya mengorganisasi kembali
pengetahuan dan pengalaman sesuai dengan situasi yang mereka hadapi.
c. Membentuk kebiasaan yang kaku
Dengan metode latihan siswa belajar secara mekanis. Dalam
memberikan respon terhadap suatu stimulus siswa dibiasakan secara otomatis.
Kecakapan siswa dalam memberikan respon stimulus dilakukan secara
otomatis tanpa menggunakan vintelegensi. Tidaklah itu irrasional, hanya
berdasarkan routine saja.
d. Menimbulkan verbalisme
Setetah mengajarkan bahan pelajaran siswa berulang kali, guru
mengadakan ulangan lebih-lebih jika menghadapi ujian. Siswa dilatih
menghafal pertanyaan-pertanyaan (soal-soal). Mereka harus tahu, dan
menghafal jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan tertentu. Siswa harus
dapat menjawab soal-soal secara otomatis. Karena itu maka proses belajar
yang lebih realistis menjadi terdesak. Dan sebagai gantinya timbullah responrespon
yang melalui bersifat verbalistis.

8 FIKRAH, Vol. 5. No.1, Januari-Juni 2006
Ha! ini berhubungan dengan metode drill dan metode Audio-Lingual (al-
Sam'iyyah al-Nuthqiyyah) di mana siswa dilatih menggunakan bahasa
dengan perubahan-perubahannya sesuai dengan objek, tentang sesuatu.
Oleh karenanya pemberian kosa ^ata/mu/raaat sangat diperlu-kan. Hal ini
berbeda dengan metode gramatika atau metode qcswaid wa tarjamah.
Sebab metode gramatika atau metode qawaid wa tarjamah dalam pembelajarannya
mengarah kepada diskusi dan analisis tentang susunan kalimat.
Dan ini hanya cocok bagi siswa yang sudah mempunyai dasar dalam
bahasa yang dipelajari /tingkat menengah dan atas bukan bagi pemula).
4. Bahasa adalah apa yang dikatakan secara aktif bukan apa yang mesti
dikatakan.
Maksudnya adalah siswa dibekali dengan ungkapan-ungkapan yang mashur/
resmt (/vshha) dan ungkapan-ungkapan yang tidak mashur/tidak resmi
('amiyyah). Serta dibekali dengan pola-pola kalimat dan contoh-contoh
yang bisa dipergunakan dalam berbicara. Dan bukan membekali siswa
dengan materi tentang perbedaan-perbedaan aksen (lahjah) antara satu
daerah (Arab) dengan daerah lain secara mendetail-
5. Bahasa dalam penuturannya berbeda-beda
Maksudnya adalah pengucapan, susunan, dan simantik serta aspek lainnya
antara bahasa ibu dengan bahasa asing itu berbeda. Oleh karenanya dalam
pembelajaran bahasa asing bagi pemula. Mereka hams meogucapkan
secara berulang-ulang (tardid) huruf demi huruf agar tidak terpengaruh
dengan bahasa ibu. Sehingga mereka dalam berbahasa sanggup secara
otomatis dan refleks seolah-olah sebagai bahasa ibu sendiri. Namun hal ini
dalam pelaksanaan dan pembiasaannya memerlukan usaha serius bagi
guru dan siswa.
Agar metode drill (latihan siap) dapat efektifdan berpengaruh positifterhadap
pembelajaran bahasa Arab, guru hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
1. Drill diberikan hanya pada bahan atau tindakan yang bersifat otomatis.
Semisal pelajaran muhadasah, guru dapat memberikan contoh teks percakapan
dan siswa dapat langsung menirukan apa yang telah didengarnya dari guru.
2. Drill harus memiliki tujuan yang lebih luas, di mana:
a. Siswa menyadari kalau pen-siswa selanjutnya, yaitu penguasaan bahasa Arab yang aktif dan komunikatif.
b. Siswa mempunyai sikap kalau pen-drill-aa. itu sebagai pelengkap belajar
selanjutnya.
AHMAO MURADI, Petaksanaan Metode ... 9
3. Drill hanya sebagai alat diaynosa.
a. Pada taraf permulaan jangan membiarkan reproduksi yang berperan. Guru
harus membimbing terlebih dahulu hingga berulang kali.
b. Guru meneliti kesulitan yang timbul dalam pentransferan pelajaran kepada
siswa.
c. Respon yang benar harus diketahui siswa dan respon yang salah harus
diperbaiki. Jangan membiarkan siswa terbiasa dengan ungkapan yang salah.
d. Memberikan waktu pada siswa untuk menyerap bahan pelajaran, mewarisi
latihari dan mengembangkan arti serta kontrol.
e. Pen-drill-an pada langkah awal penekanannya pada ketepatan selanjutnya pada
kecepatan, dan pada akhimya siswa mampu berbahasa Arab dengan tepat serta
cepat dalam merespon.
4. Masa pen-dri/l-an harus singkat, tetapi harus sering dilakukan.
Dengan begitu siswa akan memperoleh materi yang sedikit tapi melekat
dan tidak membosankan.
5. Pelaksanaan drill harus menarik dan menggembirakan.
Pen-A-j//-an dapat dilaksanakan dengan berbagai variasi. Semisal
didramatisasikan sehingga motivasi siswa berkreativitas.
6. Proses drill harus disesuaikan dengan perbedaan individual siswa.
a. Tingkat kecakapan yang diterima antar siswa pada satu saat tidak periu sama.
b. Pen-dSrt7/-an secara perorangan perlu untuk menambah pea-drill-an kelompok.
Teknik-teknik yang digunakan dalam pembelajaran keterampilan bahasa
hendaknya sesuai dengan metode yang dipilih. Sebab teknik-teknik pembelajaran
adalah penerapan atau realisasi praktis dari metode. Dan metode merupakan pcmikiran
dan langkah-langkah pokok dalam approach pada batas pelaksanaan.
Adapun pelaksanaan praktis metode drill pembelajaran bahasa Arab pada
keterampilan bahasa adalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran Muhadasah (Berbicara)
a. Tujuan Pembelajaran Muhadasah
10 FIKRAH, Vol. 5, No.1, Januari-Juni 2006
1) menumbuhkan kemampuan pada keterampilan nwhadasah bagi siswa
secara baik dan benar,
2) menumbuhkan kekayaan bahasa yang siswa miliki;
3) siswa dapat memfungsikan pengetahuan bahasa mereka dari segi mufradat
dan susunan kalimat secara benar dan memicu mereka untuk maju dan
sanggup reproduksinya;
4) menumbuhkan kemampuan siswa dalam membuat/mencipta pada siluasi
dan kondisi yang diungkapkan dengan bahasa Arab.
5) Memicu siswa untuk selalu berlatih berbahasa Arab.
6) Siswa mampu memahami setiap komunikasi dan terlatih berkomunikasi;
7) Siswa termotivasi untuk berkomunikasi di depan teman-temannya dan
tidak takut salah dalam pengucapan. (Tho'imah, 1989: 165-166).
b. Langkah-langkah Pembelajaran Muhadasdh
1) Pembelajaran muhadasah dengan teknik hiwar
(a) siswa menyimak teks hiwar (tanpa melihat buku/buku ditutup);
(b) siswa menyimak teks hiwar (melihat buku/buku dibuka);
(c) siswa mengucapkan kalimat secara bemlang-ulang dan guru menjelaskan
mufradat dan pola-pola kalimat;
(d) Guru memberikan contoh-contoh;
2) Pembelajaran muhadasah dengan teknik teks berangkai
(a) siswa menyimak teks (cerita pendek dengan satujudul);
(b) menjawab pertanyaan yang dipersiapkan;
(c) siswa mengucapkan kalimat secara berulang-ulang dan guru menjelaskan
mufradat dan pola-pola kalimat;
(d) diskusi antar siswa tentang teks yang dipelajari. (Tsauri, 2000: 1).
2. Pembelajaran 0/ro Wr (Membaca)
a. Tujuan Pembelajaran Qira'ah
1) qira'ah merupakan keterampilan dasar pertama dari keterampilan dasar
yang tiga yaitu membaca, menulis, dan berhitung;
AHMAD MURADI Pelaksanaan Metode ... 11
2) pendidikan berlangsung terns menerus dan belajar sepanjang hayat. Oleh
karenannya membaca merupakan kebutuhan pokok manusia baik secara
kuantitas maupun kualitas pada aspek membaca;
3) membaca dengan pemahaman yang luas guna memperoleh infonnasi yang
luas pula. Dengan keterampilan membaca yang dimiliki siswa memungkinkan
mereka mengkaji materi-materi berbahasa Arab;
4) dengan keterampilan membaca yang dimiliki siswa memungkinkan mereka
mencapai tujuan-tujuan praktis belajar bahasa Arab. Seperti memahami
budaya, ekonomi, politik dan lain sebagainya;
5) dengan keterampilan membaca yang dimiliki siswa memungkinkan mereka
buku-buku fiksi untuk kesenangan dan santai. Dan lain sebagainya.
(Tho'imah, 1989: 176)
b. Langkah-langkah Pembelajaran qira 'ah
1) Membaca Intensif
(a) membaca diam;
(b) menjawab pertanyaan-pertanyaan;
(c) membaca keras kalimat perkalimat;
(d) latihan membaca pennufradat. perkalimat, pernngkapan;
(e) memperbaiki dan memperindah teks secara lisan;
(f) diskusi antar siswa mengenai teks yang dipelajari.
2) Membaca Ekstensif
(a) membaca teks yang panjang;
(b) menjawab pertanyaan-pertanyaan. (Tsauri, 2000: 1-2).
3. Pembelajaran Kitabah (Menulis)
a. Tujuan Pembelajaran Kitabah (Menulis)
1) memotivasi siswa untuk menulis bentuk lambang-lambang bahasa serta
menimbulkan rasa percaya dan menghilangkan ketegangan;
2) dalam pembelajarannya didukung dengan teknik penuturan huruf, kata dan
kalimat. Sehingga siswa dapat menirukannya dan menulis dengan apa
yang mereka dengar;
12 FIKRAH. Vol. 5, No.1, Januari-Juni 2006
3) siswa terlatih dan sudah mengenal pengucapan kata-kata. Sebab menulis
mempakan aktivitas menyeluruh dalam penguasaan keterampilan bahasa
sehingga siswa dapat membedakan bunyi lambang yang didengamya.
4) memungkinkan guru untuk mengembangkan materi pembelajaran setelah
siswa mampu menguasai materi sebelumnya. (Rusyadi Ahmad Tho'imah,
1989: 187-188)
b. Langkah-langkah Pembetajaran Kitabah (Menulis)
1) menulis beihans/berharakat;
2) menulis terarah (miwaj[/ahah);
3) menulis bebas (hurr). (Tsauri, 2000: 2).
D. Penutup
Kemampuan guru dalam pengajaran bahasa Arab sangat penting khususnya
penguasaan terhadap mateode-metode pembelajarannya. Sehingga tujuan yang diharapkan
bisa tercapai.
Salah satu metode yang sering dipergunakan dalam pembelajaran bahasa Arab
bagi pemula adalah metode drill (latihan siap). Metode drill (latihan siap) adalah suatu
cara menyajikan bahan pelajaran denganjalan melatih siswa agar menguasai pelajaran
dan terampii.
Di sinilah usaha sadar bagi guru untuk sclalu memperkaya dan mengembangkan
diri terhadap penguasaan metode dan teknik pembelajaran.
Dengan pemahaman yang benar terhadap bahasa akan memungkin guru tepat
dalam memilih metode yang akan dipergunakan. Tentunya dengan memperhatikan
kemampuan siswa terhadap bahasa tersebut. Sehingga tercipta motivasi yang kuat,
proses belajar mengajar yang harmonis dan tercapai tujuan yang diharapkan.
DAFTARRUJUKAN
Al-Ghalayaini, Mushtafa. (1997). Jami'ud'Durus al-Arabiyyah. Beirut: Al-Ashriyah.
Asadullah. (1995). Metodik Khustis Pengajaran Bahasa Arab /, Mataram: Fak.
Tarbiyah IAIN Sunan Ampel.
AHMAD MURADI, Pelaksanaan Metode ... 13
Badri. (tt.). Kamal dan Shah'h Muhammad Nashir. Usus Ta'Um al-hgah al-Ajnabiyyah.
Jakarta: LIPIA.
Dahlan, Juwairiyah. (1992). Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab. Surabaya: al-
Ikhlas.
Ibrahim Badri, Kamat. (t.t.). Thuruq Ta 'Urn al-logah al-Ajnabiyyah, Fi al-Thuruq al-
'Aammah Fi Tadris al-logah. Jakarta: LIPIA.
Muhaimin dan Abdul Mujib. (1993). Pemiksran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda
Kaiya.
Pasaribu, IL dan B. Simandjuntak. (1986). Didaktikdan Metodik. Bandung: Tarsito.
Roestiyah NK. (1985). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara-
Shalahuddin, Mahfud. (1987). Metodohgi Pengajaran Agama. Surabaya: Bina Ilmu.
Sumardi, Muljanto. (1974). Pengajaran Bahasa Asing Sebuah Tinjauan dari Segi
Metodohgi., Jakarta: Bulan Bintang.
Team Kurikulum Didaktik Metodik kurikulum IKIP Surabaya. (1981). Pengantar
DidaktikMetodikkurikulwnPBM. Surabaya: IKIP.
Tho'imah, Rusyadi Ahmad. (1989). Ta'lim al-Arabsyyah Li Ghoiri al-Nathiqsn Bina
Manahijah wa Asalibah. tanpa kota penertbit: aI-Ribath Isesco.
Tsauri^ Ali. Asalib Tadris Maharah al-Logawiyyah, makalah dibacakan dalam Seminar
Meningkatkan Kualitas dan Menyamakan Metodik Didaktik Pengajaran di
LPBA Surabaya pada tanggal 7-8 Oktober 2000.
Yusuf, Tayar dan Syaifiil Anwar. (1997). Metode Pengajaran Agama dan Bahasa
Arab. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Zuhairini, dkk. (1983). Metodik Khusus Pendidikan Agama. Suarabaya: Usaha
Nasional.

Tidak ada komentar: